Redaksi Puisina

SAMBUNG PUISI "RATAP ISAK DI UJUNG LORONG" GROUP WA

RATAP ISAK DI UJUNG LORONG

Semoga kesedihanku tidak berujung berhenti harap
untuk mensyukuri nikmat kepadamu.

Mengapa harus ada sedih
allah tempat terbaik bersandar
dengan kitab suci penyambung irama
dan figur Nabi yang terayomi.

Teduhnya ruang telah tercipta di mata sajak
helaian waktu berputar membagi segala warna
dan kita semua menjalani
segala aral di atas kepala.

Sadar resiko hidup adalah mati..
Tak perlulah kita meneteskan air mata atas nama cinta
Bukankah lebih baik kita menangis karena dosa

Entah mengapa?
aku bertahan setelah sakit
apa yang membuat sakit
ach ...
terima apa yang telah pergi
bersama hujan yang mereda

Lupakan jejak kemarin
beserta patahan hujan
derasnya hanya menambah kalimat mati
lalu tumbang setelahnya.

Terlupa duka yang bertahta, terkikis luka yang menyayat. Adalah engkau juga yang mengubahnya. Benciku menjelma jadi rindu.
Yoislah....

Luka di lorong acapkali menguap
membuat perjalanan linglung di ujung jalan
sebab lama merawat badai
hingga lupakan kunci awal tujuan.

Aku bertanya pada ruang yang makin sempit. Menyudutkanku dengan rindu yang menggigil tanpa jawab. Ke mana gerangan dirimu?


*TAMAT GANTI TOPIK*
@⁨ERIN ENDANG APRILIANI PUISINA⁩
@Layla Majnun
@⁨Oktami Nurkamah Puisina⁩
@+62838-6577
Advertisement