Redaksi Puisina

25 BAIT PUISI KOPI PAGI

Inilah 25 bait puisi pagi yang di ambil dari berbagai sumber, puisi pendek tentang kopi di pagi hari , mudah mudahan bisa jadi sumber inspirasi dan semangat untuk menjalani hari.


Pagi yg tnp puisi, setuang kopi mencaci. Menggigit setengah roti dgengan perasaan tak kunjung terobat

Karna kau terbit setiap pagi, hadir mentarimu yg selalu ku nanti, sebab ucap tak selalu memikat hati, mencoba menyusun bait bait puisi.


Aku merasa dalam rindu dan terbuai dalam perasaan cinta saat ku sambut pagi dengan dinginya angin #puisipagi

Puisi tidak menyelamatkan apapun, namun memberi keberanian membuka jendela dan pintu pada pagi hari

Cemas menanti di beranda pagi, pekat kopi bertarung imaji. Ilusikan luka di hati, Mengubur rindu dalam puisi.

kopiku pagi ini pahit tanpa gula, namun bisa berubah manis karna melihat kamu tertawa

Seseorang harus meminum kopi tiap pagi. Lalu menulis puisi untuk seseorang yang tak pernah meminum kopi.

Selamat pagi kopi
Yang selalu memberi inspirasi
Di setiap bait-bait puisi
Menuliskan perasa'an hati
Untuk kekasih hati ataupun kawan sejati


Kabut pagi dilubuk hati kupahami sbagai keindahan awal dari sebuah cerita tntang indahnya kenangan, meski nyatanya kita tak lagi berpegangan


Al fatihah
Awali pagi dengan tengadah
Melangit mengharap berkah
Menabur doa2 munajah
Semoga segala terijabah
Hilang semua beban gelisah

Menjelang pagi tawamu selalu mengiringi, tanpa gelegar isak tangis getaskan bumi, seduh kopi tanpa basa-basi.

Pagi, udaramu sangat dingin, menggigil tubuh ini, tanpa dekapan, hanya angan yang memeluk sepi

Kopi di pagi hari adalah semangat
bisa menikmatinya adalah rahmat
brsamanya, sembari kutuliskan puisi
dan narasi agar kenikmatannya membekas

Di setiap pagi,akan kupastikan denting nada bergema dalam puisi tersemai mutiara budi diiringi wangi nafas doa meski raga tak bersua


Dibalik jendela pagi
ada cinta Tuhan
terpampang rapi
nikmatilah dengan hati

Semesta berpaling,
Menarikan kesunyian abadi,
Satu yang semua,
Mendamaikan jiwa manusia.

Pada hujan yang membawa rindu
Menyapa hati di pagi yang sendu
Menunggu mimpi menjadi nyata
Namun sayangnya tersadar lagi dan terluka


Waktu sudah di gerbang pagi, mata masih begitu birahi.
Wajahmu ngiang di kepala ini, hingga susah tidur terjadi lagi

Pagi dan sebuah senyum yang tertinggal di secangkir kopi. Itu dahulu, sebelum punggung kita beradu pandang dalam seteru.


Remang malam menyusuri benak, tersurat rupa dambaan hati. Sinarnya pagi redupkan luka, dari cinta tak terbalas.


Secangkir bayang, tersaji...
Indah, menyanding mentari.
Meramu cerahnya pagi... Menyempurnakan mimpi


Pagi memekarkan banyak cerita tentangmu, pada secangkir kopi dan selembar puisi, kutuangkan kata, kata yg tiap berbisik cuma menyebut namamu


Selamat pagi, penyair. Sudahkah kau mandikan puisi yang bangkit dari pendar mentari, sudahkah kau kenang wajah yang datang lalu pergi?


Pagi perindu, sajak telah khatam di lengkung alis matamu. Sementara puisi, kalimatnya telah tamat di lesung manis pipimu.


Dan kalaupun embun berlinang bukan pada putik-putik pagi tapi pada indahnya sang untai puisi, karena engkau embun yang meneteskan kesejukkan

Rawa pagi dalam embun mengelus,
Terendus halus halwa.
Hati empunya,
Sujud kala dhuha,
Sebuah kecewa--
Tak terungkai kata.
Advertisement