aku mau hidup seribu tahun lagi!

Gaung suara ini
seolah membelah langit,
membelah bumi. “
Membelah juga rel kereta api
Di pinggi kota
Akornya juga membelah
Peron station yang
Berpagar kawat duri

Tapi sang kuda binal
Melompat tidak peduli
Sepotong ujung kawat duri
Menggores perut
Menggores juga paha

Darah segar menyebut keluar
Membuat noktah-noktah merah
Dibulunya yang putih
Tapi dia Cuma menengadah ke udara
Dan meringkik lagi :

biar peluru menembus kulitku
aku akan meradang menerjang
luka dan bisa kubawa berlari,
berlari
hingga hilang pedih peri…

dan aku akan lebih tidak peduli
aku mau hidup
seribu tahun lagi!