Cerpen

Recent Post

Friday, January 01, 2016
ABU NAWAS

Puisi Ucapan Selamat Tahun Baru 2016

Hanya sebuah perenungan tahun baru 2016 , antara bahagia dan duka antara perayaan dan sekedar ikut ikutan merayakan walau kita tahu entah besok yang akan kita makan . Gembiralah bagi mereka yang bergembira tapi tentu tidak semua . Masih ada sosok lusuh di sudut sana yang menengadag dan berdoa atas permasalahan yang sedang di hadapinya .

Sekarang sudah tahun 2016...
Selamat tinggal 2015 dan selamat datang 2016
Entah suka atau berduka yang penting tahun ini baru adanya
Pokok kembang api di nyalakan, terompet di bunyikan dan petasan di letuskan.

Yah cuma tahun baru ini saja...
Tidak tambah apa apa  , yang ada tambah tua ...
Dan kehidupan semakin tambah merana
Ekonomi sulit , hutang di mana-mana

Tahun baru , uang di hambur hamburkan
Untuk sekedar membeli kembang api dan petasan
pentas musik dan mabuk sekaligus main perempuan
Pelakunya juga itu-itu saja , mereka yang punya uang ,jabatan dan kemewahan

Tidak untuk kita
Hidup di lorong gelap
Berteman harapan dan kesepian
Menari dengan nyamuk dan catatan hutang

Bisa sih sekedar bergoyang
Tapi goyangan meriang
Bisa sih menyanyi
Tapi nyayian Lara hati karena Iri .

Ya cuma tahun baru ini
Belum tentu nasibku juga baru
Seperti tahun-tahun lama
Tua renta dan binasa


Thursday, December 31, 2015
ROCHMATUL HIDAYAH

Puisi Tahun Baru Untuk Teman dan Kekasih

Hari itu masih ku kenang
Dengan sisa sampah petasan tengah malam
Bahkan letusannya masih terngiang
Indahnya bunga api masih terbayang

Kenangan girang bersama orang-orang
Masih saja terkenang
Bahkan kerap buatku senyum sendirian
Waktu itu tahun baru yang menggembirakan

Celaka... tersadar bahwa ku termakan waktu
Detik demi detik hilang tanpa salam tanpa jejak
Waktu merambat tanpa suara
Terlena, satu tahun berlalu adanya

Oh nyatanya tahun baru yang terbaru tengah tiba
Singkap lengan tuk isi waktu yang tersisa dari usia kita
Dengan aksi positif paling sempurna
Demi kebahgiaan kita dihari tua
Monday, December 14, 2015
ABU NAWAS

Untukmu yang sendiri

Namamu masih ku kenang
Di selah tumpukan masalah
Nama yang pernag ku rajut
Indah merona penuh warna

Sekarang buram tak bercahaya
Sebuah nama yang pernag singgah
Sekedar memberi tau arti kehidupan
Suka duka cinta dan air mata

Nama itu kini kusut...
Salah menoreh salah menoleh
Harapan tanpa agenda rasa tanpa logika
Berdesir mengalir hilang jadi bayangan

Pergi ikut ego diri...
Ngerasa benar hebat tak terkalahkan
Benar dan tegar rasa
Binasa karenanya...

Kamu yang sendiri
Hanya bisa meratapi
Semua yank tak mungkin kembali
Yang harusnya jadi suka
Kini menjelma jadi duka
Yang harusnya jadi harapan
Kini jadi beban

Tinggal kesendirian
Entah sampai kapan

ABU NAWAS

Puisi hujan

Musim hujan telah tiba , membasahi semua yang ada . Hujan jadi fenomena alam , dengan hujan ada harapan , ada kenangan dan ada ketakutan .

Kecil jadi kawan
Besar jadi lawan
Air turun dingin
Membasahi hati yang kering

Hujan sebuah keajaiban
Datang dan pergi sesuka hati
Turun ke bawah bersemayam di bumi
Menumbuhkan harapan
Hijau rembuyung indah menyenangkan

Hujan...
Sore...
Pagi..
Siang
Malam

Penyejuk kemarau panjang
Pengusir kekeringan
Pemberi kehidupan
Hujan kaulah harapan....

Saturday, December 12, 2015
ABU NAWAS

Air Mata Rakyat

Masih jelas di depan mata
Ketimpangan sosial
Penyimpangan moral
Jelas tanpa perlu di pikir
Dan jelas tanpa perlu tafsir

Kemiskinan di mana mana
Hutang sudah jadi pedoman
Para rentenir suda jadi tuhan
Kemanusiaan hanya tinggal tulisan
Bahan diskusi dan perdebatan
Ujungnya untuk naikan rating siaran
Berakhir pada uang
Hasil dari iklan perusahaan
Yang di bangun dari hasil korupsi
Bunga bank, tekak tekuk undang-undang

Rakyat di biarkan bodoh...
Hingga menyakini bahwa kemlaratan adalah anugrah
Tak tau dan tak kenal bahwa
Dengar musik dandan rapi di rumah yang indah itu lebih bahagia
Di banding hidup
Di kontrakan bobrok harga selangit
Di buru angsuran motor
Di hantui phk, pengusiran dan diskriminasi moral karena di anggap tak mau modal

Wajah kusut mata sayup...
Hingga tak kenal tuhan
Bahkan tak kenal sanak saudara
Dan pemimpin di sekitarnya

Bisa makan kenyang dah baik
Bisa tidur sudah bagus
Tak berurusan dengan penegak hukum sudah senang
Peduli mobil mewah rumah mahal
Makan enak tidur nyenyak.

Sudah kering air mata
Meratapi hak yang sirna di telan
Undang undang prosedural
Sudah serak suara
Menjerit melolong minta tolong
Hanya di dengar tulis jadikan proposal
Untuk proyek baru ladang baru
Dapat sumber pendapatan baru

Tangisan tinggal tangisan
Jeritan tinggal jeritan...
Mungkin tuhanpun enggan mendengar..
Karena doanya tanpa ilmu
Tidak di kabulkan
Hanya sebatas doa tanpa aturan

Rakyat hanya bisa menangis
Berlinang air mata
Tak tau apakah dia bahagia atau sengsara
Apakah ahli surga atau neraka

Breaking News
Loading...
Kirim Puisi
Press Esc to close
Copyright © 2013 Puisina All Right Reserved