Film Sang Kiai

Cerpen

Recent Post

Thursday, March 19, 2015
ROCHMATUL HIDAYAH

Puisi Bandung Lautan Api 24 Maret

Puisi dalam rangka memperingati Bandung Lautan Api. Untuk mengenang jasa para pahlawan pelaku sejarah nan perkasa dengan semangat juang tiada lelah untuk pertahankan keutuhan Bangsa Indonesia. Khususnya Bandung yang menjadi lautan api, yang menjadi saksi atas pertumpahan darah para pahlawan pejuang kemerdekaan. Kini kita heningkan cipta diiringi puisi syahdu "Bandung Lautan Api 24 Maret".

Panas menjilat bagai pesilat menggeliat
Merah merona bukan rona asmara
Melainkan rona amarah
Amarah berkobar seiring pecahnya semangat juang

Darimana asalnya api
Dari semangat yang menggugat
Lahir atas nama tanah air
Tak rela hak kami terburu dan terkebiri

Berperang hingga mati
Pertahankan kemerdekaan diri
Dibumi pertiwi
Bumi Bandung lautan api
Akan terus tersulut kobarannya
Jika penjajah coba-coba meraba

Sekarang dan seterusnya
Merdeka!!!

Oleh: Rochmatul Hidayah
Thursday, March 05, 2015
ABU NAWAS

Saat Ku Termenung

Ku lihat gunung di sana
Hitam abu abu di selimuti awan
Ku lihat langit dan awan
Kokok ayam kicauan burung
Duduk di depan jendela.

Dengan sepasang mata
Pemberian yang maha kuasa
Aku bisa menikmati pemandangan yang ada
Hitam putih hijau biru dan warna lainya
Aku bahagia aku bahagia...

Sepasang telinga...
Ku bisa mendengar nyanyian
Ku bisa tahu saat orang memanggilku
Ku juga dengar merdunya suara suara burung

Oh maha kuasa maha indah
Maha segalanya...
Ka jadikan aku sebagai manusia
Oh tuhan
Oh Allah
Oh sang maha pencipta
Entah bagaimana aku menyebutnya
Terimakasih
Terimakasih
Terimakasih...
Terimakasih...
Wednesday, March 04, 2015
Puisi Hari Wanita Internasional

Puisi Hari Wanita Internasional

Puisi Hari Wanita Internasional

Puisi hari wanita Internasional untuk memperingati hari wanita/ perempuan Internasional tanggal 8 Maret. Selamat membaca, semoga terhibur.

Aku seorang wanita
Hanya seorang wanita
Tercipta dari tulang rusuk sang Adam
Dengan kokohku, ku jaga kalbu Adam
Aku amat dekat dengan jantung
Tempat dimana semua kehidupan dimulai

Namun tak jarang ku disiakan
Kala itu kaumku tak berharga
Namun hal itu buatku lebih tegar
Buatku siap lalui kehidupan dan menerjang
Bukan tuk lampaui sang Adam
Hanya kesetaraan agar ku seimbang
Karna aku bagian dari kehidupan
Karna takdirku tuk dampingi sang Adam
Dan melahirkan generasi pengisi kehidupan

Karna aku seorang wanita
Hanya seorang wanita
Pelaku sejarah
Sama seperti lainnya

Oleh: Rochmatul Hidayah
Monday, March 02, 2015
ABU NAWAS

Ahok Vs Dprd

Zul makzul makzul makzulkan
Kata lama yang sering terngiang
Sering di tulis dan di baca di koran
Di media Internet radio dan televisi

Entah barang basi atau sensasi
Kata zul makzul makzul melulu
Bukan malah kerja bagaimana cara memperbaiki
Zul makzul makzul makzulkan

Getu terus yang di kumandangkan
Apa yang di cari sebenarnya
Kenapa Dpr dengan pemimpin kok ga akur
Ini ada apa ?

Zul makzul makzul makzulkan
Musim hujan banjirpun datang
Gelandangan masih kelaparan
Perekonomian masih tidak karuan

Masih juga ada zul makzul makzulan
Sementara pendidikan berantakan
Tetangga sebelah sudah bisa ke angkasa
Membuat internet menguasai dunia

Di sini masih ribut ...
Zul makzul makzul makzulkan
Tradisi jahiliyah berebut kekuasaan
Atas nama apa dan untuk siapa

Dikit dikit makzulkan
Senggol dikit lengserkan
Zul makzul makzul makzulkan
Omong kosong tentang kebenaran...


ABU NAWAS

Senandung Diri KE GE ERAN

Renungan hati saat lupa diri tak sadar posisi entah di atas atau di bawah , entah tepat di untung atau lagi buntung , rasa itu selalu ada , tapi apakah rasa itu sesuai fakta .

Nyanyian sunyi makin mengiris hati
Jangkrik dan cicak terbahak bahak
Lihat lusuh kumuh hati terkoyak
Punya pikiran kok terlalu rusak

Malam ini menjelang pagi
Tak mabuk tapi kok lupa diri
Apa gerangan yang kau minum sampai kau melayang
Apa juga yang kau makan sampai keracunan

Oh..... diri...
Ngerasa hebat ngerasa kuat padahal sekarat
Ngerasa menang padahal tidak ada perang
Ngerasa di cinta dan di kenang padahal dianya santai bersenang-senang

Oh diri....
Sampai kapan tenggelam di lautan ilusi
Kau minum literan bayangan tak pasti
Mabuk kepayang lupa fakta lupa data

Sudah pastinya manusia punya rasa
Tentu tak semudah itu kalah binasa
Tak ada perlawanan tak ada harapan
Ada baiknya hidup normal dan menyenangkan

Lupakan dan buang
Ngerasa diri masih di butuhkan
Ngerasa diri masih punya peran
Di hati seseorang yang mungkin sudah hidup mapan .

Belum tentu kita lebih bahagia dari dirinya
Belum tentu kita lebih mapan dari dirinya
Belum tentu kita lebih hebat dari dirinya
Bisa saja dia sekarang bahagia dan lupa pada kita

Lalu apa guna , rasa yang selama ini ada
Rasa bangga yang membara
Menjadikan kita takabur dan kufur
Bahwa yang ada itu tak lepas dari kehendaknya

Oh diri...
Kau rugi jika merasa penting sendiri
Sementara malam masih terus sunyi
Jangkrik cicak tetap bernyayi
Sementara hatimu terpatri dengar Gede rasa yang tak Pasti


Breaking News
Loading...
Kirim Puisi
Press Esc to close
Copyright © 2013 Puisina All Right Reserved