Puisi Artileri Mencatat sebuah Nama Bangsa, Dulu dan Kini

Puisi Artileri Mencatat sebuah Nama Bangsa, Dulu dan Kini Label: Ahmad Toyib, Puisi Nasional, Puisi Pahlawan, Puisi Perjuangan

Artileri atau persenjataan berat jarak jauh yang mematikan seakan menjadi simbol kedigdayaan suatu negara. Ya.. dalam memperingati hari A...

Artileri atau persenjataan berat jarak jauh yang mematikan seakan menjadi simbol kedigdayaan suatu negara. Ya.. dalam memperingati hari Artileri yang bertepatan pada tanggal 4 desember kami terinspirasi untuk menggambarkan sebuah kekuatan yang membuat negara dipandang oleh dunia tidak dipandang sebelah mata tentunya. Atas nama cinta tanah air dan tak melanggar Hak Asasi Manusia  sebagai makhluk yang merdeka tentulah dengan persenjataan lengkap dan teknologi mutakhir membuat harum nama negaranya dan mereka disebut sebagai pahlawan bangsa. Namun jika kekuatan besar itu dilandasi dasar kesombongan untuk menindas bangsa lain atau dikenal kolonialisme maka sejarah akan mencatat buruk namanya. Di kala jaya seakan semua tunduk padanya namun disaat tua dan menjelang kematian seakan menjadi sampah hingga berdiripun mereka tak sanggup tak berani menatap wajah orang yang mereka tindas.

Puisi Tercatat Sebuah Nama
Ketika sebuah nama tercatat dalam sejarah
Terbias layaknya cahaya
Menjadi sebuah benderang yang sinari kehidupan dunia
Untuk masa depan yang lebih cerah

Ketika segala generasi merasakan kenikmatan dunia
Yang tiada lagi sengketa berdarah
Yang siap bertempur dengan segala perotasian
Berperang dengan akal logika
Bukan dengan tetes darah

Demi kesuksesan diri
Menggapai segala angan dan mimpi
Membanggakan segenap bangsa dan negara
Hingga terpandang sebuah nama di dunia
Hingga tercatat pula sebuah nama di mata dunia
Dimana dunia hadir untuk bertepuk tangan …
Untuk sebuah nama…
Dalam diri indonesia

Puisi Aku Dulu dan Aku Kini
Di kala itu, aku begitu tangguh
Berjubah besi
Bertopeng ikatan perang
Ku berdiri tegak menantang
Ku sodorkan kepalan lima jariku

Di kala itu, aku tak takut
Sekalipun musuh mengahadang
Kan ku remukkan kobaran jiwa nan lantang
Hingga mereka gentar
Mereka kagum
Aku ini hebat

Namun apakah semua kini?
Di kala itu telah tak ada lagi
Berganti cerca dan hina akannya
Apa lagi aku kini
Dosa kesombongan silaukan batinku

Apalah arti jubahku kini
Berdiripun aku tak sanggup
Sungguh digdaya kemunafikan hariku
Kuruntuhkan segala pijakan batin ku

Aku kini merana
Aku ini sampah
Aku dulu dan aku kini