Puisi Hari Aids Sedunia di Awal Desember

Puisi Hari Aids Sedunia di Awal Desember Label: Ahmad Toyib, Puisi Keluarga, Puisi Kesedihan, Puisi Perpisahan

Aids siapa tak kenal namanya? Penyakit yang mematikan dan katanya belum ditemukan obatnya ini membuat ngeri pendengarnya . Di awal desemb...

Aids siapa tak kenal namanya? Penyakit yang mematikan dan katanya belum ditemukan obatnya ini membuat ngeri pendengarnya. Di awal desember ini tepatnya 1 Desember, Dunia memperingati hari Aids peringatan yang memaknai akan sangat berbahayanya penyakit ini. Bertepatan dengan hari Aids sedunia  kami juga ikut mendukung gerakan STOP AIDS dengan bahasa kami, bahasa hati, bahasa puisi, " Keindahan dan kelembutan serta keindahan bahasa yang menyakitkan jiwa raga" seakan penderita bagaikan sampah yang terbuang dari tempatnya yang berawal di bulan desember;

Puisi di Awal Desember
Jelang awal desember…
Selalu torehkan lara
Mengingatkanku akanmu
Yang telah pergi
Dengan membawa sepenggal jiwaku

Dulu, bertahun lalu…
Desember adalah pengharapan
Segala keindahan merangkai hari kita
Penuh janji wangi bunga
Dan beranggap keramat
Tuk abadikan kebesamaan cinta

Desember ceria…
Itulah saat yang kita nanti
Berharap keabadian cinta berdua
Halangi rintangan dengan peluk mesra
Tak satupun yang buat kita goyah
Merajut kasih yang terlarang

Namun…
Detik awal desember di kala itu
Aku terlupakan
Dan mengabaikanmu
Bukan kesengajaan
Atau hindarimu
Apalagi tinggalkanmu

Bukan itu sayangku…
Kau tahu aku mencintaimu
Melebihi cintaku pada diri sendiri
Hanya saja waktu itu perhatianku terbagi
Dan menyita banyak waktu
Namun bukan karena ada orang lain
Selain dirimu 

Amarahmu tak biasa
Tumpahkan semua emosi terpendammu
Keacuhanku
Percikan api cemburu dibenakmu…

Aku diam seribu bahasa
Tak mengerti sikapmu yang terlalu
Namun aku mafhum sarat rasamu
Yang anggapku hanya mililkmu
Dan takut kehilanganku

Tak ku sangka…
Itu kata terakhirmu tuk tinggalkanku
Yang ku kira hanya emosi sesaat
Tapi ternyata adalah satu isyarat
Bahwa kau memang pergi
Tuk selamanya…

Desember kini…
Adalah penyesalan panjang
Kami tinggalkan maafku
Yang tak sempat terucapkan

Puisi Maaf, Jalanku tak Panjang

Dimana kini aku berada
Kemana masa berjayaku
Sebutanku sisinya jalan
Kini tak lagi ku dengar
Menurut amarahku tak lagi tampakkan sikap jantanku

Aku terpenjara, terbelenggu dan tersiksa oleh penyakit ini
Aku bagaikan sampah yang terbuang dari tempatnya
Aku marah dan marah mengapa aku harus begini
Akankah aku dapat kembali
Masihkan aku dapat kembali

Kehidupanku tak lagi seindah dulu
Mungkin hanya sebuah doa
Ataukah sebuah ampunan untukku
Maafkan jalanku tak panjang