Puisi Agama sejak Dulu hingga Kini

Puisi Agama sejak Dulu hingga Kini Label: Ahmad Toyib, Puisi Nasional, Puisi Pendidikan, Puisi Perjuangan

Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki seluruh manusia sejak lahir. Ayo sebutkan apa saja hak-hak asasi manusia tersebut? Kalau di In...

Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki seluruh manusia sejak lahir. Ayo sebutkan apa saja hak-hak asasi manusia tersebut? Kalau di Indonesia dan berdasarkan UUD'45 HAM dikelompokkan menjadi 5 bagian yakni Hak persamaan derajat dimuka hukum dan pemerintahan, kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta berpendapat secara lisan dan tulisan, hak beragama, hak bela negara dan hak mendapatkan pendidikan. Untuk memperingati hari HAM Internasional yang bertepatan pada tanggal 10 desember kami menulis puisi tentang hak beragama setiap warga negara Indonesia:

Puisi Agama sejak dulu hingga kini
Agama?
Waktu aku kecil, aku mengetahuinya sebagai "hal yang mesti kita miliki selain nama, tempat serta tanggal lahir dan alamat rumah."

Agama?
Waktu aku sekolah menengah pertama, aku mengetahuinya sebagai "sebuah wadah agar manusia tidak menjadi kacau."

Agama?
Waktu aku mengenyam bangku perkuliahan, aku mengetahuinya sebagai "pilihan hidup yang mestinya diyakini melalui pencarian panjang."

Agama?
Tidak sedikit yang menjualnya
Tidak sedikit yang melakukan kekerasan atas nama "Agama"
Menganggap semuanya akan terdengar dan terlihat "BENAR" dengan menyematkan kata ajaib "Agama"

Agama?
Tidak sedikit yang berani menghukumi yang lain SALAH hanya dengan "Agama"
Tidak sedikit hal yang terkesan dikait-kaitkan dengan "Agama"

Agama?
Bukankah kata Karl Max "Agama adalah candu"?

Agama?
Kita, di bumi Indonesia memiliki agama yang beragam
Namun, sungguh mengherankan jika kita berani menganggap negara kita sebagai "negara agama"
Adakah dengan beragama membuat kita egois bahwa kitalah yang benar?
Lantas dimanakah toleransi itu?

Undang-undang itu tidak bisa hanya berdasarkan satu agama saja bung!
Bukankah sebagai orang beragama mestinya kita bijak menyikapi perbedaan madzhab, bukan sebaliknya?
Bukankah agama dengan asas cinta senantiasa menganjurkan kita untuk lebih peka menyimak realita sosial ketimbang peribadatan individu, apapun agama Anda?
Ahh, apakah kita telah benar-benar beragama atau hanya numpang terlihat beragama?