Tampilkan postingan dengan label Puisi Kiriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kiriman. Tampilkan semua postingan

PUISI "RINTIK KENANGAN" KARYA ERIN ENDANG A

RINTIK KENANGAN

KARYA ::: ERIN ENDANG A

Kembali menghirup udara kotamu, Probolinggo. Kota seribu kenangan kemarin di bulan Juli. Di mana tiap sudut alun alunya kujelajah hingga kakiku penuh luka luka. Masih pada lembar yang sama, sebuah mobil menurunkan aku di tempat sama dengan hawa yang berbeda. Ah, alun alun ini masih seperti kemarin saat untuk pertamakalinya aku berteduh dari mendungnya sebuah keputusasaan.

Kemudian aku masuk dan berjalan melhat kanan kiri mencari di mana aku meninggalkan sebuah jejak rintikku. Ah, masih kulihat orang yang sama. Namun berbeda penampilan. Mungkin perjalanan kemarin membuatnya menjadi wajah baru.

"Hai Dwiker, apa kabarmu?

"Baik Mbak, senang bertemu kembali, apa tersesat seperti dahulu? Tidak beruang dan galau?"

Tawa kami pecah, keriuhan bertambah ketika semua anggota Alker hadir. Ya, dahulu mereka adalah perampok, pencopet dan anak anak jalanan tanpa asal muasal. Aku sedikit gembira, karena mereka berubah menjadi lebih baik. Dan masih banyak kesedihan yang tersimpan dalam tiap senyumku yang mengudara.

"Mbak,lagukanlah syair syair itu!" menunjuk sudut di mana sebuah catatan puisiku dahulu kutulis. Penanya masih jelas terbaca dan belum terhapus cat apalagi cuaca.

"Mbak, ini gitarnya dan ini tulisan sudah kusalinkan."

"Jadi Kau ...!"

"Iya, Aku dendangkan selalu jika rindu Mbknya."

"Aduh, Aku tersanjung, terimakasih."

Kemudian jariku menari di atas gitar.

DINI YANG DIAM

Aku terjebak macet, di jalurmu
dengan mata basah
tanpa sehelai harapan di antaranya.

Lalu mencoba berdamai dengan hari
di mana riuhnya kuheningkan
walau hujan semakin deras di pelupuk mata.

Dini ini menjadi ruang sunyi
embun embun misteri menguap naik
cahaya terik mulai membakar
dan jantungku masih baik baik saja.

Probolinggo, 9 Juli 2017.

PETANG GELISAH

Duhai matahari yang muncul di balik pintu
aku masih di sini
bersama kumpulan asin
yang melahap roda kehidupan
penuh kabut noda
sebab kesukarannya meraba pintu.

Probolinggo, 9 Juli 2017.

MALAM PENGAKHIRAN

Nikmatmu, Ya Allah
membubarkan riwayat gelap
untuk menyetubuhi jalur
yang hampir tergeletak mati
dalam punuk puisi

Kemudian-

pintu begitu mudah terbuka
memulangkan tubuhku
pada kota kelahiran
yang hampir saja tak tersebutkan.

Betapa riuhku dalam doa telah terijabah
menghadirkan senyuman
pada seraut wajah mendung seharian ini.

Probolinggo, 9 Juli 2017.

Titik bening terjatuh kembali, dan kelompok Alker ingin mengantarkan aku pulang.

"Assalamualaikum." serempak.

"Waalaikumsalam, eh Dek Erin ...!"

"Njeh, Bu Lik, Aku datang."

"Masuk Nduk, dan teman temanmu suruh masuk juga.

Kami sama sama menikmati senja dengan begitu manis di halaman rumah pak lik. Aku berharap esok adalah hari paling damai di antara keredupan kemarin.

Probolinggo, 11 Oktober 2017
Read More

PUISI "Tangisan Hati" DESISI GROUP PUISI WA

Tangisan Hati

Sejak kau tinggal pergi
Hati ini menangis tiada henti
Mencari-cari, Menerka-nerka
Setiap bayang didekatnya

Bertanya penuh harap
Mengikuti jejak langkah
Kearah yang kau tuju

Namun tidakku dapati
Arah yang kau lalui

Isak tangis hati
Secara diam-diam menyelimuti pipi
Mengenang kepergian
Sang penenag hati

Hari berganti bulan
Siang menjelma malam
Tak satupun kudapati
Sosok pengganti penawar rindu

*Netrahyahimsa*
#EdisiMengenangRindu

Seputih Jaya,  10 Oktober 2017
Read More
PUISI "ADAKAH" Febrianto Indra Prasetya

PUISI "ADAKAH" Febrianto Indra Prasetya

*ADAKAH*

Tatapan indah wajahmu
Membuat hatiku bergelora
Senyum indah layaknya bidadari
Yang kan slalu kunanti nanti
Kau adalah cinta
Dari pikiran yang terbuai asmara
Kau bersinar terang
Diantara banyaknya bintang
Oh cintaku
Kau slalu kupendam dihati
Slalu kulihat dalam
mimpi
Saat cemburu menghampiri
Hati bagaikan tertancap duri
Oh cintaku,
Adakah diriku dihatimu??

Malang,6 Oktober 2017
Febrianto Indra Prasetya
*ADAKAH*  Tatapan indah wajahmu Membuat hatiku bergelora Senyum indah layaknya bidadari

Read More
PUISI "DIKALA REMBULAN TAK DAPAT KU SENTUH" OLEH AGUSTIN KUMALASARI

PUISI "DIKALA REMBULAN TAK DAPAT KU SENTUH" OLEH AGUSTIN KUMALASARI

DIKALA REMBULAN TAK DAPAT KU SENTUH
OLEH AGUSTIN KUMALASARI
Disinilah ku berada dan berdiri
Disudut terpencil itulah semua itu berawal
Gelap,dingin,dan sunyi yang kurasa
Ingin rasa hati tuk mencari cahaya pelita
Namun tak ada satupun yang tercipta

Kucari dan terus kucari hingga aku mulai merasa lelah tuk mencari
Tapi saat ku mulai mengakhiri tersiratlah 1 titik cahaya rembulan menyinari
Begitu terang dan indah kunikmati
Ingin rasa hati tuk menggapai dan memiliki
Namun telah aku sadari bahwa rembulan itu tak mungkin tuk dimiliki seorang diri

Dia sumber cahaya di kala gelap menghampiri
Jujur,kau adalah rembulanku
Cahaya dalam kehidupanku
Tapi sungguh harus ku akui
Ku tak bisa untuk memiliki

Memilikimu untuk ku jadikan kau cahaya dalam hidup ini
Kau laksana rembulan,indah namun tak dapat tuk di hibah
Kau laksana rembulan teduh,yang sampai kapanpun tak dapat tuk ku sentuh...

Agustin Kumalasari❄
Ponorogo,8 Oktober 2017
17:44

PUISI "DIKALA REMBULAN TAK DAPAT KU SENTUH" OLEH AGUSTIN KUMALASARI
Read More

PUISI "PERJALANAN" Karya Netrahyahimsa

Hidup adalah perjalanan
Dari keterpurukan menuju kebaikan
Menebar perdamaian
Menjalin persaudaraan

Hidup adalah penantian
Menanti pelangi setalah hujan reda
Mencari pencerahan usai badai berlalu

Hidup adalah perjalanan pulang
Menuju garda terdepan
Tanpa menyingkirkan persaudaraan

Netrahyahimsa

Way Kanan,  6 Oktober 201
Read More

PUISI " PENGAGUM PRIA BERPECI " KARYA LILIAN ALIYA

Pengagum pria berpeci.

Hey, lihat itu!
aaiissh, hati mengapa kau membuat pipi empumu ini memerah?
Lihatlah empu! Ada dia!
Oh, Ayolah hati, jangan membuat tomat ini semakin masak!

Aih, apa salahku?
Aku hanya memberitahumu saja, dia juga melihat kearahmu, nona!
Ah, sudahlah! 😞

Aku memang ingin dengannya.
Aku memang rindu padanya.
Aku memang mencarinya selama ini.

Aih, lagi-lagi aku masih saja belum bisa, hati.
Aku masih menjadi penikmat keindahan itu. Aku masih saja menjadi pengagum pria itu. 🙈

Aku sendiri yang membiarkannya masuk dalam anganku, dan aku?
hanya bisa mengawasinya dari jauh.

Ah, aku pengagummu pria berpeci!
Aku penikmat ketampananmu itu!
Aku yang terpesona dengan kerapihanmu itu.
Aku yang tersihir taqwa, sarung dan pecimu itu.

Aku rindu kau menjadi pendampingku.
Aku salah? Apa aku salah? Apa aku berlebihan?

Aih, aku lupa.
Aigoo, aku siapa?
Hanya bisa menikmati karya Tuhan semenarik dikau. Dari kejauhan.

Manikmu membuatku semakin melayang.
Suara bass mu membuatku lupa bernafas, sekejap.
Aih, aku terpesona.
Aish, aku terpikat.
Aah..ginga!! aku bodoh.

Aku jatuh cinta pada sosokmu, pria berpeci!
Aku jatuh hati pada ketampananmu itu, pria berpeci.
Aku tertaarik pada semua kegiatanmu, pria berpeci.

Aigoo, merindukanmu dalam lantunan do'aku.
mencintaimu dalam setiap putaran merjanku.
Mengharapkanmu dalam setiap sujudku.

Ah, bulshiit!!
Dariku, garis pengagum yang absurd ini.

Mungkin memang lebih baik seperti ini, menyapamu tanpa kata, memperhatikanmu tanpa suara..

Liliana Aliya
Kediri, 7 Oktober 2017
06.31
=====ikutan====
Irvan Ganteng
Read More

PUISI " SAAT SUBUH TIBA" @irvan ganteng @akagami @netrahyahimsa

"SAAT SUBUH TIBA"

Subuh kembali mngantarkan aku padaMu Rabb..
Engkau Maha Kasih terimakasih atas nikmtMu pagi ini
Aku msh bs mrskan sejuknya air wudhu

Jika Allah bersamaku,tak ada satupun yang aku takutkan. Tapi jika Allah meninggalkanku,maka apalagi yg aku banggakan?

Seseorang yg sering mengingatkan kita untuk makan akan kalah dengan yg  mengingatkan kita agar jangan  lupa sama Tuhan

Dan jika ku mulai tersesat di dunia
Hanya Engkau yg memberi petunjuk tuk kembali
Ke jalan yg Engkau Ridhai
Dan meski banyak dosa ku perbuat..
Kau masih memberi ku kesempatan tuk bertobat

Setan yg terbaring dikasurku sungguh mnyedihkan. Pagi tadi murka ku abaikan, karena ku memilih pergi mendekati suara azan

🌝
Bedug subuh menjelang fajar
Membangunkan kantukku
Menghantarkan kaki malasku
Menuju sudut ruangan mengambil wudhu
Lalu bermunajad kepada yang rabbi

Terasa begitu tenang udara subuh itu
Terdengar selang-seling merdunya suara adzan
Memanggil-manggil namaku
Menujumu ya rabbi


👉Sambung puisinya
Dan tulis namamu di bawah ini 👇
@irvan ganteng
@akagami
@netrahyahimsa
Read More

PUISI " GADIS HUJAN " @⁨Nur Hafidin⁩ @Irvan ganteng @LilianaAliya

" GADIS HUJAN "
Gadis berbalut jilbab yang anggun
Matanya seakan menarik sejuta pesona
Senyumnya seakan dekat dengan malaikat
Suaranya seperti bidadari yang mengagungkan syair cinta Rosululloh

Gadis itu duduk sendiri melihat hujan malam itu
Diam tanpa menghiraukan lingkungannya
Aku terpaku diantara anak muda yang menunggu hujan reda
Melihat Gadis itu mencari arti yang dimaksud

Aku tak tahan melihat dia
Mengartikan apa yang terbesit dihatinya
Aku hanya bisa membatin ”lihatlah aku yang merindukanmu”
Namun angin pun tak sanggup menembus rinduku untuknya

Andai dia tahu hujan adalah perwakilan air mataku
Mungkin dia akan kasihan atau malah sebaliknya
Andai dia membenciku aku tak akan membencinya
Aku akan berdoa untuknya meskipun aku hamba yang perlu didoakan

Semakin lama aku melihat gadis anggun itu
Perasaan halus ini tak mampu menahan rintihan kesedihan
Aku pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun memandangnya
Walau dihatiku merasa ”dia membenciku”

Aku berlari melawan hujan mengejar arah tak pasti
Dua kalimat aku adu ke langit yang meneteskan hujan
Ya Robb jikalau ini karunia dekatkanlah aku dengan dia
Ya Robb jikalau ini cobaan, maka berilah kesabaran dan keihlasan tanpa batas

Aku tak mau menyelaminya lebih dalam
Hatiku akan kukembalikan ke khittahnya
Cukup aku mengaguminya rasanya sudah cukup
Cukup aku melihatnya setiap hari itu sudah cukup

Aku tersadar aku tak boleh berharap lebih
Yang kuharap hanya ampunanMU, ridhoMU
Ya Alloh penguasa alam semesta
Berikan aku kesadaran yang terlampau buta akan cinta dunia dan nafsu.

Gerimis adalah hujan yang masih gadis, langkahnya lembut dan manis, belum paham sakitnya jadi puisi.

Aku hanya mengerti syair-syair cinta-Nya.
Aku sudah terpaku pada syair-Nya.

Maaf, sampai saat ini. Hanya syair-Nya yang bisa mengubahku.



Karya namamu di bawah:
@⁨Nur Hafidin⁩
@Irvan ganteng
@LilianaAliya
Read More

PUISI "AJARI AKU BERSABAR" KARYS ERIN

AJARI AKU BERSABAR

ERIN

Aku sekelumit kata
mengarunggi lautan lepas tanpa alas
bodohku melampaui batas.

Kemudian hitungan semi menghampiri luka jiwa
sewajarnya berkelopak dan berbunga
namun di sepanjang jalan berceceran darah darah keramat
melumatkan ruang imajinasi.

Peradilan linglung pada tonggak penyanggah
butir bening bersandiwara
sedang angkasa menghujat
dan aku mengkerut di ujung malam
bersama kelopak kehancuran.

Jakarta, 5 Oktober 2017.
Read More

PUISI "LELAKIKU" KARYA Liliana Aliya

Lelakiku.

Hey, kau lelaki yang pernah ada di hidupku.
Bagaimana kabarmu?
Masihkah ada dia dihidupmu?
Masihkah ada yang mengganggumu dengan ocehan cerewetku, seperti dulu, lagi?

Hey, lelaki yang pernah singgah dihatiku.
Lihat aku! Aku masih tegar berdiri disini.
berdiri diatas kakiku sendiri.

Hey, lelaki yang pernah sejenak mampir, bagaimana kabar hatimu sekarang? apakah masih sehat?
Aku mencemaskan kondisi hatimu, lelakiku."hatiku hancur jika tak ada dikau, gadisku"
bukankah seperti itu, lelakiku?

Hey, lelakiku aku masih disini.
aku masih saja stagnan dengan semua ini.
aku tak pernah menyuruhmu pergi dari hatiku, bahkan hidupku.
Itu pilihan dan keputusanmu sendiri, lelakiku.

Maaf, selama menjadi gadismu, aku tak sebaik dia sekarang yang kau pilih.

Maaf, aku tak bisa menjadi terbaik saat menjadi gadismu.

Lelakiku, aku disini merindukan semua ini.
Lelakiku, aku disini merindukan merdu suaramu.
Lelakiku, aku disini merindukan petikan gitarmu.
Lelakiku, aku merindukanmu.

Dariku, gadis yang masih merindukan dirimu.

Liliana Aliya
Kediri, 5 Oktober 2017
08.01
Read More

PUISI "Apa ini Indonesia?" Karya Lilian Aliya

Apa ini Indonesia?

Keindahan alam yang mempesona.
Masyarakat yang sopan, bersahaja.
Kekayaan yang melimpah.

Oh bukan , itu bukan indonesia...
Indonesia bukan sekedar
Subur makmur tanah ladangnya
Gemah ripah loh jinawi saja...

Indonesia lebih dari itu....
Di sana banyak ulama ulama...
Banyak seniman cendikiawan
Negarawan hebat
Hartawan kelas dunia

Punya banyak partai politik
Punya banyak aliran kepercayaan
Punya banyak suku dan bangsa
Itulah sebagian kecil indonesia...

Jangan remehkan indonesia...
Biar orang berkata banyak koruptornya...
Main bola kalah terus sama negara tetangga...
Generasi yang masih mudah di pengaruhi
Sinetron dan iklan televisi

Tapi indonesia tidak ada duanya di dunia...
Tak ada negara satupun punya lambang negara segagah garuda
Tak ada filosofi hidup yg kuat yg menandingi isi dadanya...
Semboyan di bawah cengkramanya...
Bak tali kebesaran pemberian tuhan alam semesta...
Bhineka Tunggal Ika....

Jangan remehkan indonesia...
350 tahun hidup dalam penjajahan..
Perang saudara bekepanjangan...
Tapi berkat rahmat tuhan....
Indonesia merdeka...
Indonesia bersumpah
Untuk bersatu selamanya...
Satu bahasa satu bangsa bertanah air satu tanah air indonesia...
Camkan itu wahai dunia....
Merdeka....

Liliana Aliya
Kediri, 4 Oktober 2017
18.34
Read More

PUISI "GADIS BERJILBAB" KARYA Disisi Saidi Fatah

Gadis Berjilbab

By : Disisi Saidi Fatah

Gadis berjilbab
Parasmu begitu indah nan rupawan
Hatimu begitu tulus nan lembut
Perhatianmu terhadapku tak pernah putus

Cinta dan sayangmu
Membuat kau rela mengorbankan waktumu untukku
Setiap pagi kau suguhkan minuman hangat untukku
Tidak lupa sepotong roti untuk menemaninya
Siang dan malam hari kau kirimiku dengan berbagai hidangan

Gadis berjilbab
Seandainya engkau tahu akan perasaan hati ini
Sejak awal kita jumpa,  hati ini sudah jatuh
Ingin rasanya aku bersamamu

Namun aku sudah berjanji kepada diriku
Untuk tidak bermain cinta
Apalagi agama kita sudah menegaskan
Tidak ada suatu ikatan kepada selain mahromnya terkecuali persaudaraan

Aku juga takut,  akan hal yang sama terulang kembali
Sebagaimana aku pernah mencintai
Beberapa hati yang kini telah pergi

Aku takut suatu saat nanti
Kau pergi meninggalkanku
Aku takut menyakitimu dan kau melupakanku
Aku takut suatu saat nanti
Kita tak menjalin suatu hubungan apapun
Sebagaimana orang-orang tersayang
Meninggalkanku tanpa aku tahu dan mengerti
Apa salahku

Gadis berjilabab
Terima kasih atas perhatian,  cinta,  dan sayangmu terhadapku
Semoga engkau tetap menjadi insyan yang kukenal
Semoga cinta,  kasih,  dan sayangmu tetap tulus dan setia menanti
Hingga tibalah saatnya Allah meridhoi kedua hati
Untuk saling berbagi dan bersatu

Way Kanan,  4 Oktober 2017
Read More

PUISI "DASAR HATI" KARYA ERIN ENDANG A

DASAR HATI

ERIN ENDANG A


Aku
semisal batang
mungkinkah bahasa kaku
menelisik fajar.

Kamu
seandainya daun
bisakah mengabadikan warna
walau cuaca menerpa wajah.

Dia
jika serupa akar
dapatkah menghidupkan hayal
dari peti peti mati
ujung jalan pramuka.

Kemudian semesta bangkit
menghasut musim
untuk bergerak acak
hingga tubuh bumi lusuh
bernisan keropos
dengan tulang tulang yang sudah di sejarahkan.

Jakarta, 4 Oktober 2017.
Read More

PUISI "HARTA DAN CINTA" KARYA IZZAM

HARTA DAN CINTA

Jangan Kau Melihat Wajah Karena Bisa Menipu
Jangan Pula Kau Melihat Harta Karena Bisa Hilang
Datanglah Kepada Orang Yang Bisa
Membuatmu Tersenyum,
Membuatmu Selalu Tertawa,
Dan Membuatmu Merasa Dia akan selalu disampingmu,
Melindungimu dan Menyayangimu.

Jangan Kau Sia-siakan hidup untuk hari ini,
Hidup ini Terlampau Singkat
Bila dilewatkan Bersama Pilihan Yang Salah
Read More

PUISI "KEBAHAGIAAN" KARYA IZZAM

KEBAHAGIAAN

Senyumlah..
andainya senyummu itu,
bisa menopengi kedukaan,
kerna kau akan lebih derita,
melihatkan wajahmu sengsara.

Ketawalah..
andainya tawa itu,
mampu mengusir kecewa,
kerna titisan luka pasti mengalir,
tanpa hati yang mengepam gembira.

Carilah bahagia,
biarpun sampai kehujung nyawa,
kerna itulah pengobat segala nestapa.

Andainya jasadmu kian longlai,
bertongkatkanlah dengan ucapan,
tasbih Ilahi dengan penuh harapan,
karna nyawamu takkan berkekalan
Read More

PUISI "Bukan Cinta yang dijanjikannya" Karya : Indra Prasetya

Bukan Cinta yang dijanjikannya
Bukan puka bahagia yang jadi dayanya
Yang kulihat hanya indahnya
Megahnya rasa bertabur bunga
Yang ditabur bukan kenanga
Yang bisa menjadikannya asa
Tak sia sia ku menanti
Dan saat ini,kutemukan cinta sejati
Hanya dirimu yang slalu kunanti

Kau bercahaya diantara bintang-bintang
Kau terang dalam hari hari
Kau tak pernah
Tak pernah pula hilang
Indah dirimu meluluhkan jiwa
Senyummu menjatuhkan hatiku
Cintamu yang tulus dari hati
Smoga sampai ajal menanti


Malang,4 Oktober 2017
~Indra Prasetya
Read More
PUISI "AKSARAKU " KARYA LILIAN ALYA

PUISI "AKSARAKU " KARYA LILIAN ALYA

Aksaraku.

Malam telah berlalu, aku menantikan sun rice di pucuk alibiku.

Untuk menemaniku dengan segala yang telah terikrar dulu.

Hampa, memang hanya bermesraan dengan alibi sendiri.

Antusiasku menggebu menanti fajar tiba.

Mana kali, kau muncul bersama dengan terbitnya mentari dari ufuk timur.

Mata memang memicing, ah tak apa itu bagian dari syukurku menikmati alam luas ini.

Angkat! ku angkat tubuhku menikmati luas semesta ini.

Darimana pun itu, yang kutau hanya nikmat-Mu, Tuhan.

Andai saja kau menemaniku menikmati semua ini.

Sudah tak mungkin lagi ku memasang kusut di paras rupawan ini.

Indah paras mu, nona. jika bersanding dsngan rupawan seperti ku.

Fokus ku seketika hilang, ntah kemana. yang kucari dikau saat sun rice, hingga sampai mencekik kulit ini.

Lihatlah, duhai nona ku. aku memimpikanmu semalam.

Intuisi menuntunku menaiki puncak alibi, sendiri.

Lalu, kau datang dengayn kopi hitam kesukaanku, dengan senyum tulusmu.

Ilusi, ah itu hanya ilusi semata. indah tak dapat ku enyam, pahit kuteguk dsmi menikmati kepahitan ini, bersama dengan kenangan bersamamu, nona.

Liliana Aliya
Kediri, 4 Oktober 2017
12.02
Aksaraku.  Malam telah berlalu, aku menantikan sun rice di pucuk alibiku.



Read More
Sajak Muhammad Lutfi

Sajak Muhammad Lutfi

Sajak Siap

Bergetar hati
Keringat tubuh
Berseteru dengan arus ketakutan
Lawan dan terjang!

Surakarta 2/10/2017


Sajak Melawan

Jika kalah,
Menanglah!
Jika jatuh,
Bangkitlah!
Jika terkoyak,
Lawanlah!

Surakarta, 2/10/2017


Sajak Setuju

Siap,
bersiaga
Berani,
tak menyerah
Kemulyaan,
adalah kepastian.

Surakarta, 2/10/2017


Sajak Menghalau

Bertahanlah
dalam kesabaran
walau pahit dan perih
walau tertinggal dan sedih
yakinkanlah bahwa kemenangan pasti datang.

Surakarta, 2/10/2017


Ya Ya Ya

Anggukkan sikapmu
Hormati leluhurmu
Dengan kesopanan
dan dengan pengetahuan
Jadilah bintang yang bersinar
sepanjang waktu!

Surakarta,2/10/2017

Biodata ; Muhammad Lutfi lahir di Pati pada 15/10/1997.
Dia sekarang berstatus sebagai mahasiswa Sastra Indonesia FIB UNS Surakarta. IG; jenarlutfi18

Read More
PUISI "MENIT GEJOLAK" KARYA ERIN ENDANG A

PUISI "MENIT GEJOLAK" KARYA ERIN ENDANG A

MENIT GEJOLAK

ERIN ENDANG A

Lihat betapa dunia esok begitu menanti hadirmu
Ingin ia kau peluk lalu penamu mengukir jagat
Dengan kalimat kalimat sajak berlukiskan sebuah goresan...

Mungkin bagai langit yang terucap dari bibirmu adalah abstrak
Namun cerita kanvas seakan rindu kau mainkan warna warna dimesi

Ialah dia esok yang rindu akan nafas puisi puisimu
Bertajuk embun yang berkawan pagi

Jakarta, 3 Oktober 2017.
PUISI "MENIT GEJOLAK" KARYA ERIN ENDANG A

Read More
PUISI "LELAH" KARYA FERLY SANTOSO

PUISI "LELAH" KARYA FERLY SANTOSO

Lelah
Mengunggu  mimpi yg nyata
Bosan...
Hanya berharap pada secercah harapan...

Ku jalani hari bagai orang mati
Tanpa jiwa..tanpa hati
Tiada kah yg mampu mengisi lubang ini
Tepat di dada ini??
Ku tunggu kau wahai kekasih
Namun AQ TK mampu bertahan lgi
Tiap detik,,tiap menit,,tiap jam ku merana
Ku terluka
Ku sengsara

Karena cinta...

PUISI "LELAH" KARYA FERLY SANTOSO 
PUISI "LELAH" KARYA FERLY SANTOSO
 
Read More