Tampilkan postingan dengan label Redaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Redaksi. Tampilkan semua postingan

Puisi Bernyawa yang mati By : Agus Ariya Santa

Berikut ini adalah puisi kiriman dari sobat Agus Ariya Santa , mudah-mudahan bisa menghibur .

Bernyawa yang mati

Depan sebuah gedung tak bertuan
Halaman luas di penuhi keril dari aspal yang pudar
Pintu pagar besi berkarat lekat
Rumput hijau tumbuh kurus di celah aspal yang lekang
Tapak sepatu tercetak di atas keramik berdebu
Dan di antara debu lain tertutup selemabar kertas coklat
Tak jauh dari letak bekas sepatu

Sebuah kertas yang luar biasa
Kertas abrakadapra
Ia menampung karunia hidup
Karunia yang cukup untuk melawan frontal kehidupan

Jangan sampai tangan tengadah di atas kepala
Karena asa hilang tanpa cahaya
Tentu lenyap kehormatan di telan lakon kotor
Dan predikat sampah melekat menjadi jati diri

Pemalas! bodoh! Kotor!
"Jelas saja" kerja keras dan impian kami! Kamu rampas!
Dari impian ceriwitan sampai yang tak terhingga bagimu

Jadi apakah pantas cap itu di muka kami?
Jika ada kata yang dapat menjadi simbol untuk kalian, betapa bahagia walau tidak merubah kenyataan
Sayang tak terpikir simbol itu di benak kami
Karena perut kecil lebih penting cepat di isi sebelum roh pergi dari raga.

Hormat kami,
Agus Ariya Santa
Read More
Puisi Kenangan : Hari-hari Yang Lewat _ Moh. Wan Anwar

Puisi Kenangan : Hari-hari Yang Lewat _ Moh. Wan Anwar

Puisi Kenangan : Hari-hari Yang Lewat _ Moh. Wan Anwar : Kilas balik sastra yang kedua adalah Puisi Kenangan,, masih karya beliau Moh. Wan Anwar.. Puisi ini mengisahkan satu perjalanan hidup atau bisa juga tentang kejadian-kejadian dari perjalanan tadi, yang memang terisyarah suatu nilai hikmah. Selamat membaca,, dan mari sedikit bernostalgia. 

Puisi Kenangan : Hari-hari Yang Lewat _ Moh. Wan Anwar


Angin nyaris tak sempat menuliskan kata
bagi orang yang terbunuh di jalanan
sosok bayangan yang mengerang panjang
seperti sekarat daun-daun.
Kita tak lagi bisa
berduka pada teriakan parau jalan raya
kecuali igauan yang menguap ke udara

Dan sekarang hari seperti akan lewat
tanpa keluhan.
Tanpa warna merah
di almanak dan upacara bendera setengah tiang
di kamar kita memang selalu berdekapan
menjadi seluruh perjalanan dan kenangan

Di bawah lampu neon pinggir jalan
kutemukan diriku
mengunyah kemuraman
Kemuraman, meraba jantung yang kian berdebar-debar

Bandung, 1993 

Salam satu jiwa sastra,, teman.. +Anette Go +Ika Hardiyan Aksari +Aishah Jahirah +Ziie fauziah +Najla najwa +Nairlaine Vieira +Nesti Rahmawati
Read More

PUISI "RESAH" Kiriman Dari : diyan nurhasanah

Selamat datang , salam kenal dan salam persahabatan untuk Diyan Nurhasanah , Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk menulis puisi ini , mudah-mudahan puisinya bisa menghibur para pembaca majalan puisina di manapun berada . berikut puisi Karya Diyan Nurhasanah Berjudul "Resah" selamat menikmati .

RESAH

Hamparan hijauku menguning
Menyerap seluruh kegelisahan ranting
Sesaat hembusan angin telah menjadi hening
Mengusap untaian dahan yang mengering

Ku teguk segelas kerinduan..
Namun ku dapati tumpukan kegelisahan
Kutakut bongkahan rasa itu membeku
Dan menjadi asa yang kelu

Kembalilah pada harkatmu
Dimana kau adalah pesinggahanku
Jangan kau untai dermaga yang baru
Karena aku tak akan mempu menepikan perahuku

Air itu sungguh menjadi lautan
Sedang air pipiku bagai buaian
Membelai halus di setiap malam
Menyelimutiku dalam kerinduan

Berhentilah mengabuti diri
Ku disini dengan asa yang pasti
Jangan kau tutupi aku dengan gelap matamu
Sedang ku selalu mencoba menerangimu

Karena Dirimu adalah labuhan hatiku
Karena Dirimu adalah singgah hatiku
Kau lebih dari sekedar untaian cinta
Kau do'a yang selalu ku pinta

Regards,
diyan nurhasanah 
Read More