ABU NAWAS

Romantis Mu Editan

Semakin maju peradaban manusia semakin banyak cara manusia mengekspresikan dirinya agar bisa lebih di kenal dunia , Walau ekpresi diri itu lebih identik dengan pencitraan demi mendapatkan pengakuan , lebih lanjut yang belum tentu di sukai orang . Tapi pencitraan menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan tersendiri manakala pencitraan ini di apresiasikan untuk kaum pencitraan itu sendiri . Ndak usah protes ... pencitraan bukanlah hal yang buruk manakala pencitraan tadi sudah jadi budaya sebagian manusia yang hobi pencitraan .

Pencitraan tidak terbatas masalah politik saja , masalah cinta juga ada ajang pencitraannya juga . Entah apa motifnya yang pasti ada prilaku-prilaku tertentu yang menjadikan sikap sepasang kekasih tadi memang terkesan editan , biar tanpak romantis,harmonis dan lain sebagainya .

Nadanya di buat rendah penuh kasih sayang
Tutur katanya lembut penuh sanjungan
Tatapanya di buat sendu penuh perhatian
Senyumanya di buat manis penuh kesejukan

Sentuhanya di buat halus... seperti tetesan embun
Bahasa puitis penuh nasehat dan pengharapan
Tak pernah membentak tak pernah menyinggung
Semua di buat datar seakan hidup di ujung dunia .

Tapi sayang...
Kesantunan itu hanyalah buatan
Hanya di jalankan saat ada kepentingan
Bukan pribadi asli panggilan nurani
Tertanam di hati sanubari sampai jadi naluri "Baik" .

Kalau romantismu romantis-romantisan
Hasil editan dari sinetron atau bintang iklan
Sama saja membunuh diri sendiri
Mengubur hati nurani sebagai mahluk manusiawi .

Kenapa harus takut marah
Jika marah itu memang di perlukan
Tak perlu sembunyi dari kenyataan
Bahwa cinta itu tak cukup dengan kata "Sayang"