Tampilkan postingan dengan label puisi silvia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi silvia. Tampilkan semua postingan

Buluh bermiang, Bikin gatal

berhatilah kawan,
pegang bambu dengan tangan
kena miang
gatal menggelinjang

tinggi benar tinggi
kokoh sangat kokoh
kuhantamkan, bocor sudah kepalamu

dibuat jadi layang
jadi tiang-tiang rumahan
tak pandai?
bergitar badan bagai simpai

dipotong, siap sudah jadi corong
jadi tabung-tabung airmu
jadi simpan makananmu
tak pandai?
miang bersarang bagai

Read More

Aku (bukan) Binatang Jalang

Aku bukan binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
yang sedianya pergi dengan melenggang
melenggang pada mata yang nyalang

Aku cuma semut pengerajin
cuma bekerja ketika aku ingin
tak suka di gaduh
apalagi disuruh- suruh

Re : Me

Read More

Ini Sentilan

hei kawan, mari
dengar celotehku yang sedikit kasar lagi tega hati

aku tak peduli buat siapa kau menulis puisi
menyampah curahan isi hati
cih, kayak abege lagi dikebiri transformasi

bisa tidak kau hargai sedikit karya seni
kasih ruh dia lalu angkasakan dilangit tinggi
meski itu cuma hobi
kebiasaan sehari-hari

tak usahlah menyamai penyair ulung
sudah jelas kau tak selevel bung

tapi kumohon,
beri dia posisi yang tak monoton
kembangkan dia laksana balon
lalu gantungkan dipohon-pohon

ini pesan lagi sentilan kawan,
pertama kubilang sudah jelas tanpa perlu pengertian.

tak mengerti? tengok karyaku pertama disini
karena sajak bukan palu godam untuk menumbuk  besi.

Read More

Harga Diri, Katanya

Mau kau jual berapa,
mau kau tawar berapa,
jiwa musnah seketika

tak ubahnya sandal jepit murahan yang diobral dikaki lima, rupamu

aku berkata pada cermin didepanku

harga diri, katanya
padahal sujud saja tak ada
jika kau tanya hakikat
manusia sejatinya makhluk lakhnat

lagi, aku menyerapahi cermin dimukaku

asal muasal tak lagi dikenang
cuma tau diri senang-senang
duniawi dikebiri
hingga hilang jati diri

ku tanya lagi berapa,
harga diri yang kau umbar-umbar dimulut saja
jika eksistensi Tuhan saja tak kau percaya

Read More

Sajak Kekasih - 1

entah hulu atau hilir yang salah
kenapa muara tak asin jua rasanya

bagai menumpukan ecap rasa
dua alir bersatu pada akhirnya

Ah ...
payaunya muara tak sepayau aduk rindu dan benciku
padamu, kekasih ...
membuaya lumpur rasaku.

entah jantan apa betina
rupa membuas laksana singa mengamarah durja

riak-riak menyapa permukaanku
tapi lumpur selalu saja tahu
bagaimana menyaring benci dan rindu

Read More

musim

musim ini musim tak musim, kekasih
sakura ranggas didahannya
tiada lagi cinta
tiada lagi rindu
cuma tetes-tetes angan yang kian membeku

bukan semi apalagi gugur,
salju turun lebih awal.
pada hatiku
pada sudut mata lancip itu.

kegamanganku jauh melebihi jika berdiri ditepi jurang
angin bertiup jauh lebih kencang
entah membawa kemarau
atau hujan, timur dan barat sama kacaunya, sayang

musim ini tak musim, kekasih
payung sudah diriku,
panas ternyata menyambang lebih dulu,
Read More

sajak mimpi

kukancingkan,
mimpi-mimpiku diangkasa
biar tak hujan
biar tak luruh seketika

kuberi ia lampu bohlam,
biar terang
biar hangat suka cita

kualaskan,
karpet beludru dari turki
biar tak kedinginan
biar dia tak menggigil jika angin meniupnya

kupasangkan rantai berkarat emas
beraromakan parfum mewah dari perancis
kesukaan ratu-ratu Elizabeth

kupigurakan,
kukurung,
hingga dia tak lepas,
namun mati!
Read More

puisi persahabatan : Semoga ini Kekal

Bagai jalur hujan
kita berkumpul disini
berevaporasi
lalu berkondensasi
dan mengguyurkan rasa
meski kadang menjadi air bah
atau cuma tetes-tetes kecil
kita tetap membasahi
melerai haus dalam diri
meski Aku, cuma sela-sela badai yang kadang seenaknya bergemuruh dalam hening kalian
masih saja takkan lupa rasa senang yang diberikan
==================================
salam kenal buat penghuni puisina yang gak sempat aku sapa.
ada pin BB gak?
Read More

Bak cando languah jawi

Bak cando languah jawi

tapancang nasib di talapak tangan
buhua bauleh batinggakan
bak cando languah jawi
baban manyasak manimpo diri

indak denai manawa harago
babali indak bacaliak tido
cukuik nasib diparasangko
usah takadia diago-ago

janjang diuleh jo rumpun bambu
jawi tadasak kakubangan
uda tabuai jo nan marayu
jo denai uda balanteh angan.

Read More

Kematian ini untukmu

Ini kematian yang kau pinta
tanpa harus aku menjelaskan banyak hal dalam warisku

dingin kataku
tak lagi berdetaknya nada suaraku
tak berimajinasinya sajakku.
ini kematian yang kau pinta

hidup bukanlah hidup jika kau tak bermimpi, katamu.
kuputuskan melenyapkan itu perdetik setelah ini kuhempaskan ke khalayak untuk di tatap saja.

jadikan saja pajangan.
kalungkan kembang lagi menyan.
biar kau puas.
karena ini kematian yang kau pinta.

Read More

Bidadari linglung : Setia

Masih,
kuseduh teh pagiku hari ini
tetap tawar
tetap hambar
apakah ini setia?

kukecap,
manis sudah ternyata
tapi hambar
tawar

mereka bilang ...
jika kau temani kekasihmu dan kau lalui hidup dengannya, itu setia.
meski menghambar
menawar
bagiku tak,

tetap sajalah kita berdiri ditempat kaki berpijak dan tak merubah warna ataupun rasa.

Read More

Bidadari linglung : Kepada Kawan

kepada kawan,

Maafkan aku tak berimu kabar dua tahun
lacur diri tak mengembun
cuma meratapi nassib yang makin lama makin terjun.

sikapku yang kian lama kian kanak menjebakku
dalam akal sehat ku sendiri mengelabu
jalang mata tak jua menyapu
saur debu beribu-ribu

lelah
memasrah
tak mau menelaah
diri yang serupa udang galah

Read More

Bidadari linglung : Sang Penari

melenggokkan raga bagai liuk ular
mata melirik dengan kasar
Kau, Sang Penari

menghentak kaki bagai debuh timbas
menggetarkan hati laksana unggas terbebas

tapi tidak,

lekukmu bagai ujung tombak
menusuk menancap dipundak
membunuh ragaku hingga darah membuncah menyeruak

Read More

Bidadari linglung : Kepada Ka,

kepada Ka,

Ka,
kala kau mendekat bagai ujung senapan yang siap meledak. Ka,
takut aku
membuncah isi otakku
menebak jalan fikirku, Ka.

Ka,
kapan engkauh menjauh. Ka,
jengah rasa beradu dalam khawatir
mengelak aku yang keluar dari bibir,

Ku cinta kau, Ka.

Ka,
karam takutku
kau tolak aku dengan seribu alasan, nantinya.

Ka,
katakan Ka,
yang mesti aku lakukan. Apa Ka,?

Read More

Bidadari linglung : Sarapan Pagi

setoples janji
sebuku hati
sesendok luka perih
sarapanku.

baru saja matahari menlongok.
menampakkan wujud elok
kau malah merusaknya dengan bobrok

pergi!
pergi kau!
ku tak butuh buaya pencicilan
cuma bisa memberi pesakitan
pergi!

Read More

Bidadari Linglung : Jangan Tidur Dulu , Sayang

oleh : Daniel shulekha

Besok, aku tidak pernah merasa seperti ini
Besok, bagaimana kosong itu akan menjadi hari yang rasanya pahit, air mata yang jelas kusembunyikan

Untuk mengetahui bahwa kaulah cahayaku
Aku mencintaimu, oh aku butuh kau

Oh, ya akan kulakukan.
Jangan tidur dulu malam ini sayangku.
Silahkan tinggal bersamaku setidaknya 'sampai fajar
Sungguh menyakitkan untuk mengetahui satu jam telah berlalu dan setiap menit berharga

Oh, aku mencintaimu
Berapa hari yang kesepian menunggumu
Berapa banyak musim akan mengalir bagiku.
'Sampai emosi membuat air mataku kering
Pada saat-saat aku harus menangis
Karena aku mencintaimu, oh aku butuh kamu

Read More

Ijinkan Kumenangis

Andai bisa,
Kusingkirkan sedikit angkuhku.
Kuredamkan jiwa sok kuatku.
Biarkan kumenangis.

Rasanya terlalu sesak.
Hingga bernapas saja serak.
Ini hidup bukan lagi hidup.
Selalu tercekal setiap kumenghirup.

Berapa lama lagi mestinya.
Bendungan kutahan berlama-lama.
Hingga melumer?
Hingga dingin bagai marmer?

Terlalu keras,tombak menancap di hatiku.
Berbisa hujungnya.
Menyebar hingga kebas rasa.
Membeku kelu.

Aku diam.

Read More

puisi selamat pagi : KATANYA CINTA

katanya cinta, tapi acuh-acuh saja.
katanya cinta, tapi kerap mendua.
katanya cinta, tapi tak pernah berkata mesra.
katanya cinta, sudah bubar saja.

aku bukan patung.
aku bukan gayung.
aku bukan belatung.
yang tak kau anggap.
yang kau gunakan saat kau perlu.
yang ketika kau lihat kau jijik.

aku tak kau lepas.
kau ikat hingga kebas.
ingin jiwa meraung buas.
sial,
sial,
sial!

Read More