Tampilkan postingan dengan label Puisi Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Fabel. Tampilkan semua postingan

Puisi Fabel "Buah Sabar dan Tabah Seekor Kerang"

Puisi dongeng yang menarik, penuh makna dan pelajaran. Cocok dibacakan
untuk buah hati tercinta menjelang tidurnya. Sekaligus mengenalkan
padanya karya seni berupa puisi. Selamat membaca.



Hembusan angin menerbangkan pasir
Desiran ombak menghantam tiada henti
Memporak poranda siapapun yang melintasi
Jangan kau simpulkan
Bahwa samudra itu kejam
Karna disana terdapat kehidupan
Yang damai dan indah mengalahkan daratan

Di dasar lautan yang dalam
Seekor anak kerang
Mengadu kesakitan
Pada bundanya tersayang

Sebutir pasir nan tajam
Memasuki tubuhnya yang lunak dan merah
Menyertakan kesakitan tiada redah
Kerang kecilpun terus menangis resah

Tiada yang bisa dilakukan
Tuhan tak karuniai mereka tangan
Tuk obati sakit yang menghujam

Sang bunda hanya bisa berpetuah
"Kini jangan terlalu lincah
"Kerahkan semangatmu melawan nyeri dan ngilu
"Balutlah pasir itu dengan getah perutmu

Kerang kecil yang malang
Hanya bisa terdiam
Sesekali menangis kencang
Karena rasa sakit bukan kepalang

Tak terasa tahun berganti tahun
Pasir yang mengganjal perutnya
Semakin halus dan besar
Menjadi mutiara nan mempesona Dengan kilaunya yang indah

Itulah buah kesabaran dan ketabahan
Kini kerang kecil mejadi kerang istimewa
Pemilik mutiara indah mempesona
Lebih berharga dibanding ribuan kerang lautan
Yang disantap manusia sebagai kerang rebus pinggir jalan

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More

Puisi Fabel "Timun Negeri Mesir"

Puisi fabel, dongeng anak terbaru, mengandung pesan moral. Cocok
dibacakan sebagai pengantar tidur si kecil, sekaligus mengenalkan
padanya karya seni berupa puisi. Selamat berdongeng dengan puisi.


Pagi menjelang terang
Sinar matahari menyeruak benderang
Embun masih membasahi dahan
Sejuk alam hayati menyegarkan

Si Kancil baru saja keluar dari peraduan
Menguap dan mengusap mata yang ngantuk bukan kepalang

Tiba-tiba datang si tupai yang nakal
Menyapa sambil menengadakan tangan"
Hai kancil yang malang"
"Kemana lagi kau kan mencuri timun untuk makan"
"Lahan pak tani sudah gersang"
"Tak kan kau dapatkan timun kecuali kenegeri seberang"

Kancil marah bukan main
Merasa ditantang oleh tupai yang jail
Tanpa pikir panjang kancilpun terpancing
"Aku akan panen timun ke negeri Mesir"

Tujuh hari tujuh malam kancil berjalan
Melewati darat dan lautan
Tak peduli panas maupun hujan
Lapar dan haus ia tahan

Sampailah kancil dinegeri tujuan
Negeri Mesir yang penuh dengan pasir

Tak terlihat pak tani apalagi timunnya
Hanya ada unta dan pohon kurma
Mana ada timun di padang sahara

Kancil tersadar atas egony
Tak seharusnya ia menanggapi tupai yang berulah
Hanya penyesalan yang ia rasa

Lapar tak tertahanka
Tak ada timun kurmapun jadi
Haus semakin mendahaga
Tak ada sumur oasepun jadi

Hikmah;
1. Jangan mudah terprofokasi dan terbawa emosi negatif.
2. Bersyukur, menjaga dan mengembangkan apa yang ada adalah lebih baik
dari pada tamak pada sesuatu yang belum tentu ada.

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More

Puisi Fabel III "Akhir Kisah Ulat Randu"

Lanjutan puisi fabel II Majalah Puisi Indonesia (PUISINA). Masih
teruntuk buah hati yang suka asik mendengar dongeng menjelah tidur.
Selamat membacakan puisi dongeng.



Di puncak pohon randu
Di tepi hulu
Sekawan serangga riuh
Perihal makhluk paling jelita
Dan kemana perginya si buruk rupa

Mereka masih tertawa
Mungkin menghina yang tidak ada


Seketika...
Mereka terpana
Untuk pertama kalinya

Sesosok serangga dengan pelangi di sayapnya
Angin menjunjung langkahnya

Hangat surya di senyuman saat bunga-bunga rebah menyapa

"Apa kalian masih mengenalku?"
"Bila kusebut namaku yang dulu?

"Akankah kalian berkawan denganku?

"Langit telah mengganti pakaianku"
"Dan aku adalah si ulat randu"


Semut tertunduk
Kepik menjadi malu
Kumbang pun membisu
Hilangnya kata-kata
Menyuarakan pelajaran berharga

Randu tua menggoyangkan dahan-dahannya
Ia tau, tentu saja sejak semula
Dihempasnya cabang
Memaksa semuanya terbang

Dan bergandeng tangan
Kini, semua menjadi teman
Tiada lagi yang terasingkan

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More

Puisi Fabel II "Debat Semut, Kepik, Kumbang dan Ulat"

Lanjutan puisi fabel I Puisina, untuk menemani tidur sang buah hati
tercinta. Selamat membaca. Semoga anda terinspirasi.

Keesokan harinya
Masih di tempat yang sama
Di ujung pohon randu mereka bersua
Semut masih membanggakan kecantikannya
Kepik masih pamer bajunya yang apik
Dan kumbang masih bangga dengan gayanya yang menantang

Mereka semua membanggakan dirinya
Dan bersepakat akan suatu hal
"Teman-teman, yang pasti kita satu suara"
"
Serangga mana yang paling buruk rupa!"


Semua tertawa sinis
Melirik Ulat randu berkumis

Yang meratapi diri dan menangis

Tubuhnya kelabu
Kotor penuh bulu
Tak luwes
Tak anggun
Tak indah
Tiada berguna



Ulat randu terpojok sendirian
Dirajutnya selimut
tuk kehangatan
Membalut diri dan bersembunyi
Dari hiruk pikuk yang mengelilingi


Ia pun terlelap dan bermimpi
Sesosok bidadari mendatangi
Seraya menasehati
"Sabarlah"

"Pada saatnya kau kan temui kebahagiaan dan keindahan
"

Bersambung...

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More

Puisi Fabel I "Debat Semut, Kepik, Kumbang dan Ulat"

Puisi fabel, cerita anak terbaru, singkat dan padat, cocok sebagai
pengantar tidur sikecil, sekaligus mengenalkan padanya seni berpuisi.
Selamat membaca.


Sayang... Putriku sayang...
Bobok dulu sudah malam
Ku sertakan puisi dongeng sebagai penghantar

Dahulu kala

Daat binatang dapat bicara seperti manusia....

Di hulu tumbuh sebatang pohon randu

Tinggi menjulang, rantingnya lebat mendayu

Bermacam serangga hinggap
Di puncaknya dan menetap

Siang yang hangat
Berkumpul mereka berdebat
Semut manis berucap
"Aku ini serangga paling cantik"

Membantahlah si kepik
"Aku dong paling menarik"
"Lihat bajuku, berbintik nan apik"

Kumbangpun berdengung
"Hey lihat aku dengan kagum"
"Kuning hitam belang"
"Gayaku sungguh menantang"

Semut, kepik dan kumbang
Terus berkilah dan berdendang
Mengagungkan dirinya hingga siang
Tak terasa matahari semakin menantang
Dengan terik panas bukan kepalang
Tiada bosan mereka beradu dalang
Hingga malam menjelang

Bersambung!!!

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More