Tampilkan postingan dengan label sajak cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak cinta. Tampilkan semua postingan

Judul "SAHABAT"

Puisi sahabat persembahan untuk para sahabat puisina. Para sahabat untuk sang sahabat.. wa bil khusus buat mylophelyplend "AlMieZaN/abgband.nu" kalian inspirasi terindah.

Judul SAHABAT
Terpejam mata melihat
Tergambar canda mewarna
Tangis terkikis bersama gerimis
Lapar dahaga pun tertelan manis
Sahabat..
Cinta ini meluap
Kala indah makan bersama
Tidur dikelas tengah
Antrian panjang menjerit
Jika waktu jamaah melilit
Sahabat..
Tak ada cinta yang tak indah
Bak bunga dan sang warna
Berdansa mengalun mesra
Dalam buai ikatan saudara
Sahabat..
Kini tak pernah ku dan kau bersua
Tak terjangkau dalam batasan sang mata
Tapi cinta kan tetap terjaga
Dalam nuansa pelangi penuh warna
Sahabat
Bila kini suara tlah parau
Jadwal kita tlah kacau balau
Kan ku kenang penyembuh galau
Tetaplah sahabatku dikau.



Terkirim dari Samsung Mobile
Read More

Puisi Cinta Terampuh dan Terbaru "Harmonis Pangkal Romantis"

Puisi cinta mesrah, bikin pasangan makin kagum dan lengket. Tak ada
salahnya puisi cinta ini digunakan untuk merayu kekasih tercinta
supaya makin tergila-gila sama kita. Selamat membaca.

Ku bangun istana cinta dengan setiaku

Ku lindungi dindingnya dengan percayaku

Ku hiasi semuanya dengan ihklasanku

Ku rawat keteguhanya dengan tulusku

Dan ku ciptakan kedamaian dengan kasih sayangku


Berharap takdir tak merenggutmu

Ku kan selalu menjagamu
Di saat terjaga dan tidurmu
Memeluk dan menyayangmu
Mengecup dan memandangmu

Namun...
Aku bukan Tuhan Yang Maha Mampu

Mengendalikan semua yang ku mau

Aku juga bukan malaikat penjaga
Yang selalu terjaga sepanjang waktu


Ku hanya kasih dalam hatimu

Cinta dalam hidupmu

Rindu dalam nafasmu

Yang kan tetap hidup dalam sanubarimu
Berharap selalu begitu

Karena aku mencintaimu
Berharap menjadi pendampingmu
Sekaligus bunda dari anak-anakmu

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More

Puisi Cinta Segitiga "Bidadari Linglung"

Puisi optimistis menghadapi cinta segitiga yang menyesakkan dada.
Semoga anda terhibur dan selamat membaca.

Awalnya..
Tak ada rasa
Kenalpun tak ingin
Sama-sama asing


Namun Tuhan berkehendak lain
Pertemanan terjalin
Kau teramat baik
Hingga hati terpaut balik

Kau bagai malaikat tanpa cacat
Yang hadir memberi suasana hangat
Namun taklah lama cinta tercatat
Malaikat yang nampak tanpa luka
Mulai berkilah tanpa rasa dosa
Menyakiti hati ini tiada hingga

Yang kutakuti terjadi
Cinta segitiga menghampiri
Antara aku, kau dan sahabatku
Tak adakah yang lain dibumi ini
Hingga kebahagiaanku harus terkebiri

Sudah pergilah kalian
Pergi jauh dan jangan kembali
Kan ku rawat hati ini
Bukan untuk tersakiti oleh hal seperti ini

Masaku masih panjang
Berlari kuterjang masa
Menyongsong kehidupan
Bukan sekedar cinta segitiga
Yang menyesakkan dada

Kini..
Aku masih bisa bahagia..
Tanpa kalian berdua..

Oleh: Rochmatul Hidayah
Read More
Puisi Renungan Dan Kenangan : Suatu Sore _ Dima Nuga

Puisi Renungan Dan Kenangan : Suatu Sore _ Dima Nuga

Suatu Sore, Menunggu Hujan Reda Karya Dima Nuga _ Puisi kenangan dan juga renungan pembaca,, kenangan tentang teman,, teman bermain, bekerja dan juga teman hati. Serta sedikit renungan tentang sosial, faham agama juga realita kehidupan nyata. Nah,, bagi pembaca puisina,, semoga beberapa sajak karya "Dima Nuga" ini bisa sedikit memberi kesegaran pada resah kita, selamat membaca...

Puisi Renungan Dan Kenangan Suatu Sore _ Dima Nuga


Sore itu langit muntah hebat
aku yang terjebak dalam pikiran
terkurung dalam ruang
akhirnya menemukan kawannya sendiri
kawan diskusi

dimanapun "orang aneh" selalu sama
dikucilkan dan diasingkan oleh kepicikan
pikiran-pikiran puritan memaksa semua mulut untuk diam
mulut yang melawan
apalagi yang dipaksa memadu cinta olehnya

sore itu langit berkeringat hebat
para fundamentalis punya peran fundamental
dari situ saya disingkirkan
dan dari situ pula diskusi bermula

tentang Herakleitos yang berbicara perubahan
dalam kutipan dari tajuk sebuah majalah

dan filsafat eksistensialisme
Soren Aabye Kierkegaard
Nietzsche hingga Sartre
dari dialektika Hegel
matrealisme dialektik Marx-Engels
hingga Lennon yang mengkritik tuhan

Tentang Profesor Driyarkara dan filsafatnya
tentang Ahmad Tohari dan Dukuh Paruknya
tentang Ahmad Wahib yang mati kecelakaan
hingga tentang saya yang lebih banyak berkawan dengan seniman

tentang kapitalisme yang tidak bisa
menyejahterakan rakyat sebuah negara
dan komunisme tidak bisa berbuat apa-apa
bahkan saya tidak bisa membicarakannya
bersama teman-teman kantornya
menurut teman-temannya hal itu tabu
saya tak mau semakin diasingkan

Tentang penjagal yang tertawa-tawa bangga
dan filmnya bisa ditonton dimana-mana
hingga Jembatan Bacem yang menjadi saksi
mayat-mayat terapung dikali

kritik tentang agama
dan para penganutnya yang miskin logika
tentang dogma yang memaksa penganutnya
percaya untuk tidak bertanya
tentang Golden Rute yang tidak semua punya
tentang ladang masa depan yang ditanami kebencian
dan tentangg banyak lagi hal
dalam ruang keterasingan saya

diskusi berakhir ketika tetes hujan terakhir
makin malam menanti
membawaku untuk segera kembali

"orang aneh" selalu dipaksa tak berdaya
 


puisi untuk Pak BS- _Kamis, 6 Juni 2013_


Salam satu jiwa sastra.. dan terima kasih kepada +windy hae +Arbainah Inah +Najla najwa +Putri Respati +Inayah Saidah +jasmin azahlia +dina zhibee +laras windy tiara
Read More
Kumpulan 2 Sajak Moh Wan Anwar : Renungan Perjalanan

Kumpulan 2 Sajak Moh Wan Anwar : Renungan Perjalanan

Kumpulan Dua Sajak _ Moh Wan Anwar : Berikut ini adalah kumpulan dua sajak karya Wan Anwar dalam tema "Renungan Dan Perjalanan.. sedikit mengulas dan belajar sastra, dengan satu semboyan sederhana "dengan membaca kita mengenal dunia,/ dengan menulis dunia mengenal kita". Yang tentunya semboyan tadi tidak berlaku untuk penulis status jejaring sosial belaka. Percayalah dan selamat membaca..

Kumpulan 2 Sajak Moh Wan Anwar : Renungan Perjalanan


Hari-hari Yang Lewat _ Moh. Wan Anwar

Angin nyaris tak sempat menuliskan kata
bagi orang yang terbunuh di jalanan
sosok bayangan yang mengerang panjang
seperti sekarat daun-daun.
Kita tak lagi bisa
berduka pada teriakan parau jalan raya
kecuali igauan yang menguap ke udara

Dan sekarang hari seperti akan lewat
tanpa keluhan.
Tanpa warna merah
di almanak dan upacara bendera setengah tiang
di kamar kita memang selalu berdekapan
menjadi seluruh perjalanan dan kenangan

Di bawah lampu neon pinggir jalan
kutemukan diriku
mengunyah kemuraman
Kemuraman, meraba jantung yang kian berdebar-debar

Bandung, 1993

_____

Kasidah Lilin _ Moh. Wan Anwar

Pada hari ini telah kaugenapkan hitungan nafas
dengan iringan kasidah cahaya.
Dua puluh tiga tahun
waktu dan cuaca menguji setiamu pada bumi
Langit yang melahirkan musim dan cakrawala
aku harap kaupun menyala,
meski angin teramat deras menggempurkan pepohonan
yang sedang khusuk ruku dijiwamu.

Meliuklah seperti para darwis
mengikuti loncatan irama dalam batin
seperti para penari yang bercakap
dengan gerak tubuhnya sendiri.

Mabuklah bersama pengembara
menjelajahi ruang-ruang yang tak pernah terjangkau pikiranmu
Dan pada detik-detik yang lambat ini
akan kuundang para malaikat
untuk membasuh rambut
dan lumpur yang membaluri kulit tubuhmu

Bersiaplah kau dari pedang
yang tiba-tiba membelah dadamu,
menghapus bercak-bercak hitam
bersembunyi dalam lipatan-lipatan kalbu

Dan ketika kau tiup api dalam tubuhku
pahami,, aku kekal menyala dalam kekosonganmu

_Bandung, 1996

Salam kenal untuk +Salim Ismail +Dany Dani +Cintia Fátima +sumarna caz zunda +Nisa Khairunnisa +Faridan M.Dawam +Banyu Bening
Read More
AGUS GANTENGSTERS

Sajak Cinta Debu Jalanan "Edisi Arjuna Linglung"

Sajak Cinta Debu Jalanan "Edisi Arjuna Linglung"_Salam jumpa pembaca puisina.. semoga selalu sehat sentosa, konsumsi air putihnya ditambahi.. lagi kurang ramah cuaca akhir-akhir ini soalnya. Puisi cinta yang lagi galau-galauan, puyeng-puyengan.. atau jomblo-jombloan, mungkin puisi berikut ini bisa jadi hiburan buat lesu rasamu. tetap riang dan tetap semangat.. hadapi jalani dan nikamti, okeh! selamat membaca..

Salamku pada hujan
yang mengisyarah jalan siangku dengan kesejukan
salamku juga pada dedauan
yang menyapa anggun dalam diam senyuman
dan untukmu batu,
aku tau keras ragamu menajuk rindu,
rindu untuk dipahat
juga rindu untuk dipadu menjadi bangunan
agar terwujud fungsi aman juga kenyamanan.

dan debu,
agak kagum aku ingin bertanya padamu,
_kenapa kau selalu pasrah dihembuskan?
padahal kau bisa saja marah dan menjadi kelilip dimata
_kenapa pula kau nampak tetap sahaja?
padahal kau tak pernah disapa dan cenderung dihina
_kenapa, bagaimana dan apa?
kau begitu rela menghantar dirimu untuk duka
jika mungkin kau bernyawa dan memiliki rasa
bisa saja kau berkumpul menjadi pasir
untuk melekatkan para batu
demi menepis tiap cercaan serta gerutu.

debu..
saya bingung memaknainya,,
ajarkan padaku..
bagaimana memiliki laku sepertimu.
agar rasaku tak hanya semilir angin,
dapat dirasakan namun sulit diwujudkan,
jelaskan untuk ku lewat sendu titahmu,
yang berjalan dengan kerelaan walau tak pernah ada hirauan

apakah mungkin jalanmu memang mulia adanya
sampai kagum, kau bisa untuk tayamum
keikhlasan tanpa pamrih serta kesanggupan rasa
dan mungkin kau sebut itu cinta?
lantas..
apakah saat kumatikan sebatang rokok yang baru saja kusulut,
untuk berjalan bertandang diakhir pujian
setelah adzan
ini juga disebut cinta!
aku masih belum faham degubnya.

Read More