Thursday, June 6, 2013

3 PUISI PUASA RAMADHAN MENGHARUKAN

Label: ABUNAWAS, Agus Santuso, Puisi Ramadhan

ABU NAWAS Puisi berjudul "3 PUISI PUASA RAMADHAN MENGHARUKAN"

 3 PUISI PUASA RAMADHAN MENGHARUKAN - Mudah-mudahan puisi ini bisa menambah kelembutan hati kita dan bisa memotivasi prilaku kita untuk berb...

Baca Selengkapnya
Anda Senang sampaikan pada teman Jika tidak sampaikan pada Author : ABU NAWAS
 3 PUISI PUASA RAMADHAN MENGHARUKAN - Mudah-mudahan puisi ini bisa menambah kelembutan hati kita dan bisa memotivasi prilaku kita untuk berbuat lebih baik dari hari hari biasa .
TUHANKU AKU MENGADU

Aku kecil dikala dulu berada
Tak satupun tahu hasrat yang kusimpan
Disaat waktu terus berputar
Di kala usia bertambah angka

Tuhan bolehkan aku bicara padamu
Sekarang aku sudah besar
Detik demi detik kulewati bersama-Mu
Senang dan sedih ku lalui dengan mengenal-Mu
Tuhan aku punya hasrat
Hambamu punya timbunan cita-cita
Wujudkanlah dikala aku besar nanti

Tuhan ku pecaya kaulah pengatur jagad raya
Penentu segala takdir ini

DI PENGHUJUNG RAMADHAN

Kala kerinduan belumlah usai
Kala penghayatan dalam doa belumlah sempurna
Menapaki lajunya perjalanan yang tiada henti
Menyusuri lorong yang penuh liku menghadang

Ku ingin kau basuh dalam renunganku
Saat kau pancarkan cahaya dalam bulan nan mulia
Mengharapkan ampunan dalam sujudku yang panjang
Masihkan kan kupalingkan wajah ini?

Ingin ku hapus semua noda dan dosa
Ingin ku hempas semua kobaran emosi dalam dada
Meluruhkan jiwa yang sarat dengan hasrat
Tenggelam dalam tangisan penuh sesal

Sanggupkah kan kutapaki hariku
Menyongsong esok yang tlah siap menanti
Semoga dipenghujungmu ya Ramadhan
Apunan Ilahi kan terpancar lewat pribadi nan luhur

MENCARI SEBUAH MASJID

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang tiang-tiangnya dari pepohoon di hutan
Pondasinya batu karang dan pualam pilihan
Atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan
Kubahnya tembus pandanng
Berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
Dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur’an dengan warna platina dan keemasan
Bentuk daun-daunan sangat teratur serta sarang lebah begitu geometriknya
Ranting dan tunas berjalin bergaris-garis gambar putaran angina
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu sebuah masjid yang menaranya menyentuh lapisan ozon
Dan menyeru adzan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat dunia
Nadanya yang lepas-lepas disulam malaikat jati renda benag emas yang memperindah ratusan juta sajadah disetiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang letaknya dimana pada waktu adzan lohor engkau masuk kedalamnya
Engkau berjalan sampai waktu asar, takkan capai saf pertama
Sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bersalatlah dimana saja
Dilantai masjid ini yang besar luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberi tahu tentang ruangan disis mihrabnya
Sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
Orang-orang dengan tenang membaca di dalmnya
Di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari
Kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan ke susunan syaraf pusat manusia
Dan jadi ilmu berguna
Di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
Terletak disebelah menyebelah masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
Yang beranda dan di dalamnya tempat orang-orang bersila bersama
Dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
Dan pendapat bias berlainan namun tanpa pertikaian
Bisalah diuraikan dalam simpul persaudaraan sejati dalam hangat sajadah
Yang itu juga terbentang di dalam masjid yang sama
Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Dimanakah dia gerangan letaknya?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
Ketika dipuncak tergelincir sempat lewat sperempat kuadran turun kebarat
Dan terdengar merdunya adzan dipegunungan
Akupun melayangkan pandangan mecari masjid itu ke kiri dan ke kanan
Ketika seorang tak kukenal membawa gulungan
Dia berkata, “Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”
Dia menunjuk tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik tikar pandan
Kemudian dituntunya aku ke sebuah pancuran
Airnya bening dan dingin teratur
Tanpa kata dia berwudhu duluan
Akupun dibawah air itu menampungkan tangan
Ketika kuusap mukaku kali ketiga secara perlahan
Hangat air yang terasa bukan dingin
Kiranya demikianlah air pancuran yang bercampur dengan air metaku yang bercucuran.

Demikian  3 PUISI PUASA RAMADHAN MENGHARUKAN mudah mudahan bermanfaat .

Advertisement

0 komentar:

Post a Comment

Cara Kirim Komentar Via Hp :
1. Pilih Profile sebagai Name/Url
2. Isi Kolom Nama dengan namamu
3. Isi Kolom Url dengan Http://puisina.blogspot.com atau kosongkan saja
4. Isi Kalimat yang mau di kirimkan
5. Publish

20 Puisi Terbaru
Loading...
Kirim Puisi
Press Esc to close
Copyright © 2013 Puisina All Right Reserved