Tampilkan postingan dengan label Puisi Rantauan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Rantauan. Tampilkan semua postingan

Puisi "Rantauan Muara Kami" Ratih Novitasari

Rantauan Muara Kami
Kami berjalan mengenang tiap langkah kaki menginjak pertiwi
Di ujung sana tempat kami bersimpul begitu banyak tangan melambai
Mulut teriak bersorak-sorak
Mengeja setiap nama yang di puja
Diri hanya menyembunyikan sejuta luka dan lara
Karena tetes air mata dari mereka yang menangis
Semua menjadi bekal pengiring jalan kami
Kami berdiri di tengah dingin duniaMu
Berselimut tebalnya rindu
Kami tak punya tempat selain Engkau beri tempat itu
Dimana kami akan bermuara??
Menetap membawa sebuah harapan
Ketika,Cita-Cita,Cinta,dan Segalanya
Kembali bersimpul mengikat erat

Hormat kami,
Ratih Novitasari
Read More
Puisi Amanat Untuk Sahabat Sejati

Puisi Amanat Untuk Sahabat Sejati

Puisi Amanat Untuk Sahabat Sejati

Banyak kenangan yang dilalui bersama sahabat.Tetesan air mata tak akan cukup untuk menghapus kenangan.Aku juga bukan lautan yang mudah menenggelamkan perasaan.Aku hanyalah insan yang banyak kekurangan yang mengerti arti persahabatan.

Puisi Amanat Untuk Sahabat Sejati


Aku merasa jauh darimu
Tak lagi ada arti persahabatan
Sebuah kebersamaan yang biasa dilalui
Walau kita berbeda keadaan

Maafkan aku kawan
Bukan maksud hati mengiris luka
Menutup hatimu dalam penjara
Ataupun membuat gerakmu kaku
Hingga langkahmu terbatasi olehku

Namun aku hanya ingin menunjukkan padamu
Untuk melihat dia sebenarnya
Sebelum semua terlanjur berlalu
Menyisakan penyesalan yang tiada akhirnya

Bukalah mata dan hatimu
Agar engkau tahu maksud hatiku
Hanya sebagian rasa kepedulian
Yang bisa aku berikan kawan
Aku tak ingin kau terluka olehnya

Demikianlah puisi amanat untuk sahabat sejati .Semoga puisi ini bisa memberikan gambaran kepada pembaca untuk menjaga persahabatan.Walau bukan anggota keluarga tapi sahabat juga selalu ada dan mau membantu di kala susah atau senang.
Read More
Bisnis Investasi

Puisi Selamat Tinggal Kampung Halaman

Puisi anak rantuan selepas mudik lebaran , akhirnya harus kembali berjuang untuk menggapai masa depan merantau ke negeri orang . Singkat saja dan simpel saja .

Rasanya baru kemarin desing mesin itu bisu
Asap dan debu jalan menemaniku
Macet panas dan hujan bersamaku
Rasanya baru kamerin..

Aku ingat saat raut ibu terngiang di benaku
Seperti kaca di helm bututku
Iya rasanya baru kemarin
Senyum teman sekampung menggelitik
Saat aku mancing , hujan hujanan main bola .

Ku bongkar tabungan
Aku mantabkan untuk pulang
Aku rindu kampung halaman
Dan aku kangen suasana lebaran .

Ah macet bukan masalah
Ah lapar bukan persoalan
Ah jauh , apalagi . Itu mah bukan halangan
Yang penting aku pulang untuk berlebaran .

Teramngu di ujung janggut
Pikiranku mulai kalut..
Ternyata sudah satu minggu
Tak terasa habis sudah masa cutiku

Kini aku harus berangkat...
Rela tak rela , aku harus hadapi kenyataan
Bahwa aku harus tinggalkan kampung halaman
Rasanya baru kemarin...
Read More