Thursday, July 17, 2014

"Tebaran Sunyi" by.Sri Widiya Ningsih

Sri Widiya Ningsih "Tebaran Sunyi" by.Sri Widiya Ningsih

Selamat malam para pembaca Puisina.... Seindah apapun ribuan bintang yang hiasi langit malam , adakalanya mereka tak nampak. Membuat langit...

Baca Selengkapnya
Selamat malam para pembaca Puisina....
Seindah apapun ribuan bintang yang hiasi langit malam , adakalanya mereka tak nampak. Membuat langit terlihat kosong dan hampa. Mungkinkah langit pada malam itu sama sepinya seperti saat seseorang harus jauh teman dari  terbaiknya??
Ya, puisi kali ini menceritakan seseorang yang harus berpisah dengan teman terbaiknya. Teman yang memang di anggapnya luar biasa dan mampu menjadi motivasi di tengah kehidupannya yang rumit.
Baiklah, selamat membaca.. :-)

"Tebaran Sunyi"

Tebaran sunyi beterbangan
menyertai angin malam yang dingin
menembus hari terasa menyesakkan
suaranya sayup, berteriak tapi tak ingin

Benteng apalagi yang harus ku bangun?
sakit ini menyeruak tak tertahan
Upaya apalagi agar tak terasa luka apapun?
kisah ini membuat butir air mata berjatuhan

Bolehkah aku menolak perpisahan?
ujung buntu yang membuatku terjatuh
namun sungguh dia bukan sekedar teman
dia bagai pohon rindang tempatku berteduh

Lihatlah diriku dengan sejuta perubahan
ini berkat dia yang jadi tongkat penuntunku
dan aku masih butuh dia sebagai panutan
maka tolong berpihaklah walau sedikit padaku

Aku memang tak berhak menentukan takdirku
tak berhak pula aku paksakan kehendakku
bila di dunia kita tak mungkin selamanya bersama
semoga pertemanan bisa kita sambung di surga
(Amin Ya Robal Alamin...)

#Hormat saya
Sri Widiya Ningsih




Advertisement

Setiap puisi menjadi tanggung jawab penulis , jika ada masalah silahkan laporkan ke Contact Admin . Terimkasih
KOMENTAR 2
Comments
4 Comments
KOMENTAR 2

4 komentar:

  1. Replies
    1. hehe.. awas ka, jagan nangis.. kan lagi puasa...

      Delete
    2. Aku relakan perpisahan ini jika memang harus di jalani , walau berat tapi mau bagaimana lagi .
      Jika kau tak pergi untuk mandi dan baju ganti
      Tentu malah parah bau kita saat ini . selamat mandi...

      Delete
  2. Di mataku….di hatiku…
    Disanalah tempatmu
    Kala haru…kala rindu…
    Kala itupun kau terjatuh
    Kala ku bahagia…kala ku
    sengsara….
    Kala itu juga kau tiba
    Bahkan…dalam do’a
    Di setiap do’a….
    Kaupun selalu turut serta
    Kau adalah ketulusan…
    Kau adalah kelembutan…
    Kau adalah kelemahan…
    Pada jiwa yang mulia

    ReplyDelete

Cara Kirim Komentar Via Hp :
1. Pilih Profile sebagai Name/Url
2. Isi Kolom Nama dengan namamu
3. Isi Kolom Url dengan Http://puisina.blogspot.com atau kosongkan saja
4. Isi Kalimat yang mau di kirimkan
5. Publish

Breaking News
Loading...
Kirim Puisi
Press Esc to close
Copyright © 2013 Puisina All Right Reserved