Saturday, May 17, 2014

Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang

AHMAD THOYIB Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang

Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang adalah puisi keluarga yang bercerita tentang seorang istri y...

Baca Selengkapnya
Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang adalah puisi keluarga yang bercerita tentang seorang istri yang menunggu suaminya untuk makan malam. Di mana sang suami sedang bekerja keras demi keluarga tercinta. Apa daya karena jarak makan malampun belum terlaksana. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya, mari kita baca lanjutannya dalam puisi berikut;

Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang


Puisi Makan Malam untuk Suamiku Sayang
Istri
Rumah itu seperti taman
Jika Anak-anak adalah bunganya
Seorang ibu adalah perawatnya
Dan Pemilik taman harus datang memeriksanya
Berjalan memeriksa apa ada bunga yang layu
Pulanglah! ketuk pintu rumahmu
Lebih awal demi bunga yang layu itu
Tak setiap waktu tapi cinta dan kebersamaan
Akan menjadi sebuah liburan di akhir pekan

Suami
Mustahil! Kamu seorang wanita tak akan tahu
Kerja keras adalah yang dibutuhkan untuk membuat bisnis tumbuh berkembang
Aku tak bisa bersama dengan kalian sampai waktu telah larut
Segeralah tutup pintu rumah kita, jangan tunggu aku untuk makan malam.

Istri
Makan malam adalah seperti pupuk penyubur
Tanpanya keindahan taman akan luntur
Rumah hanyalah sebuah rumah, sayang
Sampai kamu memberi sebuah kejutan
Hadiah istimewa yang ku rindukan
Kamu tidak perlu bekerja keras untuk membelinya
Kamu cukup mengembalikan bagianku yang hilang
Pancaran mata darimu sebuah "kasih sayang"

Suami
Tentu aku mencintaimu dan anak-anak kita
Mengertilah sayangku ini semua untuk kita
Aku bekerja keras demi keluarga kita
Sekarang, esok lusa dan selamanya rawatlah taman kita

Istri (merenung)
Dia tidak bermaksud melukaiku
Aku tahu hatinya baik
Suamiku adalah laki-laki yang mencintai kami
Aku silau dan menjadi kabur penglihatanku
Sedikit waktu untuk bersenang-senang
Sedikit waktu untuk bermain
Sebuah kata untuk membuktikan betapa dia cinta
Dan sebauh ketakutan rasa cinta itu pergi

Suami (Merenung)
Dia tidak bermaksud melukai hatiku atau menyusahkan
Istriku, tapi ini lebih sulit dari sekadar membalikkan telapak tangan
Aku telah membangun rumah dan memasangkan sebuah mahkota untuknya seperti ratu
Namun sang ratu pergi tanpa memahami keinginanku
Aku hanya memberinya sebuah berlian kemarin
Mungkin beberapa wanita seperti itu, hanya melihat yang ada di depan mata



Advertisement

Setiap puisi menjadi tanggung jawab penulis , jika ada masalah silahkan laporkan ke Contact Admin . Terimkasih
KOMENTAR 1
Comments
0 Comments
Komentar
Breaking News
Loading...
Kirim Puisi
Press Esc to close
Copyright © 2013 Puisina All Right Reserved