Manusia Tetap Manusia, Bukan kisah Mahabaratha "Edisi Arjuna Linglung''

Selamat pagi matahari,
maaf,, binar hangat cahayamu sedikit kuambil,
buat bekal melukis sajak pagi,
dicangkir kopi
biar siang kurasakan sengat sampai aku terbakar debu semangat
tanpa cemar gerutu laknat.
Sehingga senja selalu sahaja dengan lelap bias jingganya

dengan senyuman, sedikit kusimak beberapa sajak dari teman,
ada kerinduan,
ada kepedihan,
ada kebahagian, beserta sepenuh khusyuknya perasaan.
Sungguh,, saya terkesan
yang semua tadi kelak akan terpatri abadi sebuah kenangan.

Dibalik bayang, ada secarik kertas datang melayang.
Kutangkap, ternyata ada bait puisi disana
mengisahkan tentang haru biru perjalanan
Seorang anak manusia yang belajar menjadi ksatria
Dengan kesungguhan dan tekad kebersamaan
Bukan semata cerita wayang yang hanya mahir bermain peran

Memang wiracarita mahabaratha sangat menarik
mengemas keluhuran budi pekerti dengan cerita nyentrik
Namun apakah sebuah cerita akan mengubah jati diri manusia adanya,,

Seperti KARNA yang berpihak pada KURAWA pelambang keburukan
lantaran secuil kekecewaan
atau ARJUNA yang membalas suatu "jasa' dengan menebas leher BISMA
bersama segunung kepedihan

aahh,, sungguh tak bajik lagi bijak kiranya,,
Makhluk yang dianugerahi nurani dan dimuliakan akal
terkeruk kutuk lantaran kisah pengiring kantuk,
hingga pada akhirnya berujung akhir pada dengkur di atas kasur.
Yang padahal Persaudaraanku jauh lebih berharga dan mulia
daripada menggerutui tipu nafsu lagi rasa.


--
agus_ngawi