Pujian Kepada Insan Paripurna

Pujian Kepada Insan Paripurna Label: Puisi Islami, Rochmatul Hidayah

Pujian untuk Nabi Muhammad SAW, insan paripurna, beraga sempurna tiada cela, dan beretika tinggi tak tertandingi. Pujian Kepada Insan Par...

Pujian untuk Nabi Muhammad SAW, insan paripurna, beraga sempurna tiada
cela, dan beretika tinggi tak tertandingi.

Pujian Kepada Insan Paripurna

Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam.
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.

Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu.
Dan dengan batu mengganjal perutnya yang halus itu.

Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya.
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.

Butuh harta namun menolak
Maka tambah kezuhudannya
Kendati butuh pada harta
Tidaklah merusak kesuciannya

Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia.
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

Muhammad-lah pemimpin dunia akhirat
Pemimpin jin dan manusia
Bangsa Arab dan non Arab

Nabi-lah pengatur kebaikan Pencegah kemungkaran
Tak satu pun setegas ia
Dalam berkata ya atau tidak

Dialah kekasih Allah yang syafa'atnya diharap.
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.

Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus.
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.

Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa.
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.

Para Nabi semua meminta dari dirinya
Seciduk lautan kemuliaannya
Dan setitik hujan ilmunya

Para Rasul sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.

Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah yang mulia.

Dalam kebaikanya
Tak seorang pun menyaingi.
Inti keindahannya
Takkan bisa terbagi-bagi.

Karena keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya.
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.

Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi.
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.

Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan.
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.

Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi

Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya

(Terjemah Qasidah Burdah 3)