Saat Aku Ingin Bintang " Renungan "

Saat Aku Ingin Bintang " Renungan " Label: ABUNAWAS, Puisi Motivasi, Puisi Renungan

Puisi renungan kali ini membahas tentang harapan dan resiko perjuangan serta pengorbanan dalam mencapai sebuah tujuan . Sebagai motivasi di...

Puisi renungan kali ini membahas tentang harapan dan resiko perjuangan serta pengorbanan dalam mencapai sebuah tujuan . Sebagai motivasi diri , agar tetap sabar dan tegar saat mendapat masalah dan berbagai persoalan di tengah perjalanan dalam menggapai tujuan . Hidup penuh perjuangan , berawal dari perjuangan seorang bapak saat menaruh benih di rahim ibu , dan perjuangan ibu saat menerima benih dari bapak , perjuangan mereka saat kita masih di dalam kandungan , hingga titik klimaks , taruhan nyawa seorang ibu dalam memperjuangkan kita supaya bisa terlahir di dunia . Simpel bukan . 

SAAT AKU INGIN MERAIH BINTANG .

Tidak Cuku dengar tentang indahnya bintang di malam hari
Jika aku puas dengan itu , berarti aku dungu .
Dungu , karena aku percaya kabar yang bisa benar juga bisa palsu .
Dan aku tidak ingin hidup di dunia penasaran , Alam angan-angan .
Hidupku ini nyata , aku manusia , yang bisa di lihat dan bisa di raba .
Tidak sepantasnya aku mudah percaya begitu saja . kata berita .

Aku sadar , keluar dari dunia angan itu butuh perjuangan .
Aku paham , obat penasaran itu butuh pengorbanan .
Walaupun itu sekedar melihat bintang...
Tapi aku syukur pada tuhan , 
Untung aku cuma di beri keinginan untuk melihat bintang .
Coba kalau aku di beri keinginan untuk melihat pembuat bintang .
Bisa habis umurku hanya untuk satu tujuan mencarinya .

Biarlah melihat bintang jadi target kegiatanku saat ini .
Mudah-mudahan keinginaku itu terwujud ... amin....
Do'a aku panjatkan , nasehat dan saran aku lakukan .
Mudah-mudahan bisa berhasil dengan lancar . amin...

Syukurlah , aku sudah punya dua mata yang sehat .
Ini menjadi fasilitas mendasar , supaya aku bisa melihat mutiara langit ini .
Fasilitas ini aku dapat gratis , walau jarang ku rawat , alhamdulillah , masih bisa berfungsi dengan baik .
Dengan mata ini , aku bisa mengenali suatu benda .
Mata ini canggih , bisa mengartikan milyaran warna , juga bisa memaknai triliyunan benda .
Alhamdulillah , satu alat canggih telah aku punya .
Alat pengelihatan pemberian Allah .

Dengan mata saja tidak cukup .
Karena bintang , munculnya tidak setiap saat .
Bintang tidak akan terlihat , saat langit mendung .
Mata ku tidak bisa menembus tebalnya mendung .
Tapi munculnya bintang bisa di pastikan .
Konon kata orang , bahwa bintang akan muncul saat malam hari .
Mudah-mudahan , aku di beri kesabaran menunggu malam .
Dan aku di berikan ketabahan di saat langit mendung .
Siang dan malam di luar kontrolku .
Langit mendung di luar kuasaku .
Ada pihak ketiga , yang berperan , kapan saya bisa melihat bintang .
Dialah Allah sang pencipta alam. Aku harus sabar atas kebijakanya .

Jika nanti langit harus mendung , aku harus sabar menunggu cerahnya .
Jika waktu malam belum datang , aku harus sabar menunggunya .
Jika langit cerah dan malam tiba , terus aku ketiduran , maka aku harus bisa menerima .
Walaupun , kejadian ini berlanjut sampai bertahun-tahun , bahkan sampai aku tutup usia .
Saya harus terima .Mungkin karena saya belum waktunya melihat bintangnya .

Tapi ...
Jika mataku masih sehat ....
Dan aku di beri ketegaran , menghadapi mendung .
Di beri kesabaran menunggu malam .
Di beri ketabahan untuk menahan kantuk .
Dan di tanamkan kemuan untuk menyempatkan , lihat bintang .

Saat itulah aku harus bersyukur pada Allah..
Karena dia telah melihatkan bintangnya pada saya .
Memberi kesempatan pada saya .
Dan jangan sampai aku melewatkanya dengan percuma .
Mengingat tidak betapa tidak gampang bagi saya , walau hanya untuk melihat bintangnya .

Aku lemah...
Mata saja hasil pemberian .
Kontrol waktu aku tidak punya .
Kontrol kejadian juga tidak ada .
Konsentrasi bisa hilang karena ketiduran .
Ya aku lemah dari segala hal .
Kecuali jika sang maha pencipta mau dan sudi . memperlakukanku seperti apa yang di kehedakinya .

Demikian puisi Saat Aku Ingin Bintang .
By : Abdul Aziz Ngawi